Loading

Thia's Journey in the US: Lost in New York

Muthia Fadhila Khairunnisa 9:40:00 PM Be the first to comment!
2 kata buat New York: Kurang lama! Aku belum sempat ke Central Park, Grand Central Terminal, Flat Iron Building, dan beberapa tempat iconic di New York. But in other ways, I still have many things to do while I’m here. Masih ada Boston, Philadelphia, dan Washington DC menunggu. Sembari menulis postingan ini, aku dan teman-temanku banyak throwback, hahaha. “Reuni 22 Januari 2030 di Times Square,” semoga bisa terwujud, ya, Kawan.

DAY 3
24 Januari 2017. Seperti hari sebelumnya, kami bangun pagi dan langsung sarapan di hotel. Mulai dari omelet, sereal, roti, teh, kopi, hingga cokelat hangat semuanya tersedia. If I recall correctly, Aca pagi-pagi (or was it malam harinya?) sudah berbelanja drugstore make up di CVS dekat hotel. Meanwhile, Padma dan Nash went for a 2 degree celcius morning jog. Ya, dua olahragawati(?) ini jogging di NY sampai ke Central Park pagi-pagi buta. Benar-benar dedikasi, ckck. Alhasil, aku turun ke bawah sendiri untuk makan dan sudah menemukan beberapa teman menikmati santap pagi mereka. 

Aku mengambil omelet, sereal, dan susu cokelat. “Eh, omeletnya ada hamnya!” I remember someone said that to me, kalau nggak salah Bila. Kebetulan, ada David, yang bisa makan ham. Tapi ternyata piringnya sudah penuh dengan tumpukan omelet, sekitar 7 atau 8 tumpuk karena teman-teman yang lainnya nggak bisa makan. HAHAHA. David bahkan langsung menelepon Gita untuk turun ke tempat makan dan bantu dia menghabiskan semuanya. Sabar, ya, Pid. 

Aku akhirnya hanya makan sereal dan meminum susu cokelat. Mana ngambil serealnya kebanyakan pula, wkwkwk. Singkat cerita, David dan Gita pun nggak sanggup menghabiskan seluruh omeletnya. Sekitar setengah sembilan pagi, kami berjalan kaki menuju NBC Station. It was 2 degree, according to Snapchat. Hanya berjarak 11 menit dari hotel, juga dengan tata kota New York yang rapi, kami hanya perlu melewati dua blok untuk sampai ke NBC Studios di Rockefeller Plaza. 

NBC, atau National Broadcasting Center, adalah stasiun penyiaran tertua di Amerika Serikat. Ya, dimulai dari radio, stasiun televisi ini telah menghasilkan berbagai program unggulan yang dinikmati masyarakat. Terlihat satu gedung tinggi dengan tulisan NBC di paling atas. Yap, kami sudah sampai.

Di NBC

Ketika masuk kedalamnya, kami disambut dengan NBC Merchandise Store. Mulai dari The Voice, Saturday Night Live, Tonight Show with Jimmy Fallon, Late Night with Seth Meyers, program-program unggulan tersebut memiliki merchandise masing-masing. Kak Doni membagikan tiket untuk NBC Studios Tour. Ada tiga kloter. Aku memilih kloter pertama yang pukul 9.20 alongside the girls. Sebelum kami melakukan tur, Kak Doni menawarkan beberapa pilihan. Yang pertama, setelah tur, kami dapat mengantri untuk tapping acara The Tonight Show with Jimmy Fallon. Yang kedua, kami dapat mengantri untuk rehearsal maupun tapping Late Night with Seth Meyers. Yang ketiga, kami dapat bebas pergi, namun semuanya kembali ke NBC pada sore hari karena kami akan ke Times Square dan menonton Aladdin di Broadway! Yay! Aku pikir menjadi kloter pertama akan lebih enak karena aku bisa leluasa jalan-jalan setelahnya. Ya, I don't know much about Jimmy Fallon and Seth Meyers, hence I skipped that. 

Ala-ala juri The Voice

Ternyata, kami mendapat dua pemandu laki-laki. And we all have to agree that they’re charming. Yep. Bahkan salah satu dari kami ada yang keceplosan menyebutkan bahwa mereka charming. Hahaha. Sebelum memulai tur, kami masuk ke dalam ruangan yang tampak seperti bioskop mini, dimana ada pemutaran film singkat tentang sejarah NBC. Kami juga diberi pin yang harus dipakai selama tur dan dapat kami bawa pulang nantinya. Unfortunately, taking pictures aren’t allowed during the tour. Ketika aku berkaca di ponsel saja, pemandunya menegurku karena mengira aku sedang mengambil foto. Wkwk. 

Kami naik lift menuju sebuah lantai dimana terdapat historical hall yang memajang gambar-gambar bersejarah tentang NBC. Entah itu gedung pada awalnya, siaran radio pertama, dan sebagainya. I’m sorry I couldn’t recall perfectly since there aren’t any pictures. Okay, so it’s called the art deco mezzanine and rotunda, tempat para penonton mengantri untuk melihat tapping atau live sebuah acara di studio NBC. 

Ada juga semacam hall of fame yang cukup sempit lebarnya. Oh iya, kami juga masuk ke beberapa studio, lho. Ada studio dimana acara Tonight Show ditayangkan. Kami melihat set aslinya. Lalu ada juga salah satu studio (yang aku lupa digunakan untuk acara apa) yang ternyata tempat untuk bandnya terlihat kecil. Kami juga dijelaskan mengapa lantainya begini, mengapa dindingnya begitu, dan sebagainya. Though, I don’t remember. Sorry! 

And then we got to see the studio where they shoot Saturday Night Live ever since the first episode (around 1975?). Jajaran kursi kuning tempat duduk penonton itu pun stays the same sejak dulu. Ada beberapa perubahan di bagian lighting dan sebagainya, namun, masih ada sekitar 3 lampu sorot yang sudah lama dipakai, terlihat dari logo NBC yang tertera pada lampu tersebut merupakan logo NBC lama. It seems amazing. Kami duduk di tempat orang-orang tertawa menyaksikan acara komedi SNL semenjak tahun 1975 hingga sekarang. Untuk menonton acara ini pun tidak mudah. Mereka harus membeli tiket yang nantinya akan diundi dari berbulan-bulan yang lalu. 

Here come’s the fun part. Kami diberi kesempatan untuk memproduksi acara The Tonight Show sendiri. Mulai dari MC, pembawa acara, narasumber, pemusik, hingga orang di belakang layar seperti teknisi dan kameramen pun adalah salah satu dari kami. Aku dan Padma menjadi teknisi, Nashita menjadi MC, Fatia menjadi Jimmy Fallon alias pembawa acara, Zar menjadi narasumber, serta Hanni, Ariqo, Aca, Medina, dan Bila menjadi band untuk mengiringi acara. Videonya pun direcord dan kami mendapat hasilnya. And actually, this is how NBC searches for new talents. Mereka melihat orang-orang berbakat lewat produksi ini. Selain memproduksi acara, kami juga dijelaskan bagaimana proses di belakang layar broadcasting hingga siaran tersebut sampai di televisi. Ada produser, teknisi untuk suara, visual, dan lainnya. And with that, tur kami di NBC studios selesai. Kami cukup puas dengan satu jam berkeliling dan mendapat ilmu baru di NBC.

Uuuw ....

Selesai tur, kami bergantian foto dengan the two charming tour guides. AHAHA. Beberapa dari kami juga membeli merchandise dari NBC. Though I didn’t buy anything. Sembari menunggu kloter dua dan tiga selesai, aku masuk ke salah satu toko pernak pernik di NBC. And after three days in the US, akhirnya aku mendengar lagu Korea. Ya, toko itu sedang memutar lagu Stay dari Blackpink. Aku ikutan bersenandung, deh. 

Setelah semua terkumpul, Kak Doni memperingatkan lagi bahwa kami dapat mengantri untuk tapping acara Jimmy Fallon maupun Seth Meyers. Gabby, Gita, dan Diedra berhasil menonton tapping The Tonight Show with Jimmy Fallon. Ica dan Jessica menonton rehearsal Late Night with Seth Meyers, sementara Zar menonton tappingnya. So, the difference between rehearsal and tapping is, sang pembawa acara akan mencoba atau mengetes jokes yang akan ia bawakan pada saat acara di rehearsal. Jadi, penonton rehearsal itu semacam orang-orang yang menentukan apakah jokes itu good enough buat masuk ke siaran. 

Meanwhile, aku, Padma, Aca, Fatia, Mayang, Syafa, Mila, Nashita, dan Ariqo malah langsung ngacir buat nyari 99 Cent Fresh Pizza. Hahaha. Kami berjalan kaki sekitar 10 menit dari NBC Studio. Gerimis mulai turun ketika kami di tengah jalan, sehingga kami sudah basah kuyup saat sampai di 99 Cent Pizza. Most of us memesan two slices of pizza, mushroom and cheese, juga satu botol air mineral yang totalnya hanya USD 2.50. Bayangkan, satu potong pizza ala New York (yang lebar dan tipis dan enak dan segalanya) itu hanya seharga Rp. 13.000. Well, I could only get the normal size di Indonesia. Tokonya kecil, namun mereka menyediakan meja di dinding (?) agar kami dapat makan berdiri di pinggir. Sang penjual menanyakan dari mana kami berasal. Spontan, kami menjawab, “Indonesia,” and his reaction was good. 

Puas makan pizza yang suuuper enak dan ekonomis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Times Square atas permintaan beberapa teman yang ingin membeli barang titipan orang-orang di Sephora. Hahaha. Untungnya aku tidak dititipi apa-apa. Fatia dan Ariqo memisahkan diri dari rombongan karena mereka ingin berkelana lebih lanjut di Fifth Avenue, salah satu jalan yang paling terkenal dengan berbagai macam toko di kiri dan kanannya. 

Karena hujan makin deras, kami memutuskan untuk membeli payung di salah seorang pria yang menjual payung. Ketika semua sudah mendapat payung hitam, aku memakai payung bunga-bunga sendiri milik Mila. Bayangkan, ketika para New Yorkers berjalan cepat dengan payung hitamnya, aku adalah satu-satu orang yang berjalan tidak terlalu cepat (karena tidak terlalu terbiasa memakai boots) dan … memakai payung bunga-bunga warna-warni. Gagal sok-sokan jadi New Yorkers, deh. :’)

New Yorker gagal

Sesampainya di Times Square, kami langsung masuk ke Sephora dan bertemu Hanni yang juga sedang berbelanja. Aku, Mila, dan Padma yang memang tidak mengerti make up hanya bisa mengintil di belakang teman-teman yang lain. Ketika di 99 Cent Fresh Pizza, Nashita sempat mengajak kami untuk ke Carlo’s Bakery, salah satu toko kue terkenal yang bahkan ada serial televisinya. Aku pun setuju karena setelah makan pizza, waktunya makan manis-manis! Hahaha.

Wet Times Square

Berbekal payung milik Mila dan kantung plastik NBC milik Fatia (yang kugunakan untuk melindungi handbagku), aku, Nashita, dan Padma keluar dari Sephora, kemudian berfoto-foto sebentar dengan latar Times Square sebelum melanjutkan perjalanan ke Carlo’s Bakery dengan bantuan Google Maps. Dari Times Square ke Carlo’s Bakery tidak terlalu jauh, mungkin sekitar dua blok kecil. Sayangnya, cuaca sangat tidak mendukung sehingga kami harus menerjang hujan untuk sampai ke sana. 

Ternyata, Carlo’s Bakery berseberangan dengan kantor The New York Times. Aku pun meminta tolong Padma dan Nash untuk memotretku di depan kantor tersebut, sementara Nash meminta tolong dirinya untuk diabadikan di depan Carlo’s Bakery. Padma …, Padma sibuk merecord apa yang ia lihat di sekelilingnya melalui ponsel.

Kantor NYT

Kami pun masuk ke Carlo’s Bakery. It wast 2 pm dan kami makan pizza pukul 12, setidaknya perut kami sudah sedikit kosong karena berjalan daritadi. Nash paling bersemangat untuk memilih kue yang ingin ia coba. Sementara aku dan Padma memilih yang ekonomis but looks good. Ahaha. Tidak ada tempat duduk tersisa untuk kami. Kalaupun ada, tiba-tiba keduluan. Akhirnya kami mengambil kursi dan duduk di pojokan menghadap kaca. Nash asik bercerita tentang serial televisi yang ia tonton sehingga ia kenal betul Carlo’s Bakery. Kami ngobrol banyak sembari menunggu hujan reda, sekaligus menghangatkan badan. Kalau di Indonesia, mah, kita masuk ke sebuah toko untuk ngadem karena di luar panas, di New York malah kebalikannya. Hahaha. 

Endorse cannoli-nya Carlo's Bakery

Sampai tiba-tiba …, “Eh, gue pengen ke Madison Square Garden, deh,”. Ya, aku ingin melihat at least tampak luar dari gedung yang sering dipakai para penyanyi untuk konser itu. 

Nash juga nyaut, “Eh, iya, gue pengen ngeliat Empire State Building,” 

“Yaudah, yuk, kita ke landmark-landmark yang ada di New York!” aku pun langsung membuka Google Maps dan mencari rute untuk ke Madison Square Garden dan Empire State Building. Ini adalah kesempatan terakhir kami untuk mengeksplor New York karena esok hari akan pergi ke Boston. Aku menambahkan ingin mengunjungi New York Public Library. Entah karena alesan apa, aku hanya ingin melihat perpustakaan di Amerika Serikat. Haha. 

Disinilah kisah “Bolang US” dimulai! Karena hujan tak kunjung reda, kami pun akhirnya keluar Carlo’s Bakery setelah cukup kenyang dan hangat. Kembali bertemu dengan angin kencang dan rintik hujan, kami mulai berjalan ke tujuan pertama, Madison Square Garden yang kebetulan tinggal lurus dari Carlo’s Bakery. Kami berjalan kaki delapan blok untuk sampai kesana. Nashita memakai windbreaker yang ada hoodienya, Padma memakai scarf untuk melindungi kepalanya, dan aku? Aku bersusah payah memegang payung di tangan kanan dan kantung plastik NBC di tangan kiri, sesekali memegangnya di satu tangan karena tangan kananku memegang ponsel untuk memotret sekitar. Apalagi payungnya sering tiba-tiba terbalik karena tiupan angin. Tangan dan telingaku sudah dingin tak karuan, hampir mati rasa. Tapi tak apa, lah, sayang-sayang kalau tidak bisa keliling New York ketika ada di US. 

Sebelum sampai di Madison Square Garden yang tinggal satu blok lagi, kami memutuskan untuk menghangatkan diri dengan masuk ke CVS. Oh iya, CVS itu semacam minimarket. Mengingat Aca yang memborong drugstore make up dengan harga ekonomis, aku, Padma, dan Nash ikut-ikutan masuk ke bagian make up. Aku sendiri membeli consealer untuk eyebags dan penjepit bulu mata. Uniknya, untuk pembayaran sudah pakai mesin sendiri. Jadi kami tinggal scan barcode, memasukkan uang ke dalam mesin tersebut, dan ta-dah! Belanjaannya sudah menjadi milik kami. Cool! Haha, maaf ya norak.

Sesampainya di Madison Square Garden, aku, Padma, dan Nash langsung bergantian memotret. I forgot urutannya, tapi itu selalu Padma memotret Nash, Nash memotret aku, dan aku memotret Padma. Itupun kami terkesan buru-buru karena masih punya beberapa destinasi. Kalau tidak salah, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore. Masih ada 3 jam untuk berkeliling sebelum pertunjukan broadway dimulai. 

Puas berfoto, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Empire State Building yang dari Madison Square Garden juga tinggal lurus sekitar tiga blok besar. Not gonna lie, kombo angin dan rintik hujan itu sudah membuat tanganku mati rasa. Padma dan Nash sudah terbiasa berolahraga, so I guess they’re fine. Ahah. 

Kami masuk ke salah satu restoran Wendys untuk menumpang toilet. Untungnya, toiletnya berada di basement sehingga kami bisa langsung turun melalui tangga tanpa harus membeli makanan. Ketika aku mengecek penampilanku yang sudah ambruladul(?) itu di kaca …, “Eh, anting gue satunya kemana, ya?” nah, loh. Anting di sisi kananku hilang (sepertinya) terbawa oleh angin. Padahal aku baru memiliki anting itu sekitar 3 bulan? Ya sudahlah. Saat pemiliknya nggak lost in New York, eh, malah antingnya yang entah kemana. 

Dari satu blok sebelumnya, Empire State Building mulai terlihat. It was almost 5 pm. Kami lagi-lagi bergantian memotret teman dengan latar gedung tertinggi di US tersebut, mencari-cari angle yang pas. Aku, Nash, dan Padma melewati Empire State Building, berbelok ke kiri menuju New York Public Library. 

Rute kami seperti membuat persegi panjang. Diawali Carlo’s Bakery dekat Times Square, lurus ke Madison Square Garden, berbelok ke Empire State Building, belok lagi menuju New York Public Library, dan menuju ke New Amsterdam Theatre yang searah dengan Carlo’s Bakery. Never have I ever thought I’d walk this long in my life. Rasanya udah seperti Lari Lintas Juang (lari dari Taman Makam Pahlawan Kalibata hingga SMA Labschool Jakarta dalam rangka pelantikan OSIS dan MPK) di New York. 

Jarak dari Empire State Building ke New York Public Library kira-kira sama dengan jarak dari Carlo’s Bakery hingga Madison Square Garden, sekitar delapan blok. Kakiku sudah mulai sakit karena mengenakan boots, sementara Padma dan Nash both were wearing running shoes. Tapi aku tetap bersemangat, karena melihat foto-fotonya di internet, perpustakaan itu didesain seperti perpustakaan di film-film dengan lukisan di langit-langitnya, tiang-tiang besar, pokoknya seperti perpustakaan idaman, deh! 

Kami masuk ke dalam gedung dengan tulisan New York Public Library. Ternyata isinya berbeda jauh dari yang aku lihat di internet. Aku berinisiatif untuk naik ke lantai dua, siapa tahu gambar di internet itu wujud aslinya ada di lantai atas. But we were wrong. Hanya seperti perpustakaan biasa dan banyak mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugasnya. Suasananya sangat hening. Aku kembali mengecek Google Maps jika kami berada di tempat yang benar. Ternyata salah. New York Public Library ada di seberangnya. And we were at Mid-Manhattan Library yang merupakan cabang dari New York Public Library. 

Aku langsung menyuruh Nash dan Padma turun melalui tangga (karena jika lewat lift akan memakan waktu). Menurut internet, perpustakaannya akan tutup pukul enam dan waktu pada saat itu menunjukkan pukul setengah enam sore. Dilihat dari luar, gedungnya terlihat megah, layaknya museum-museum di luar negeri. Ada patung singa di depannya. Sekarang, giliran aku yang paling bersemangat. Tanpa foto-foto di depannya terlebih dahulu, kami langsung masuk ke New York Public Library. Syukurlah, pada hari itu perpustakaan tutup pukul delapan malam sehingga kami masih punya waktu untuk berkeliling.

Di depan New York Public Library

Aku bertanya pada petugas disana, apakah aku dapat membuat kartu anggota, dan aku diminta untuk langsung naik ke lantai tiga. Entah kenapa tiba-tiba muncul ide untuk membuat kartu anggota perpustakaan, padahal besoknya aku akan pergi ke Boston. 

15 menit sebelum pukul enam sore, aku sudah berada di tempat pembuatan kartu anggota. Aku sempat bertanya, “Can a foreigner make a library card?” dan dia memperbolehkan. Sang pustakawan memintaku untuk mengisi formulir online di salah satu komputer yang tersedia. Setelah itu, aku langsung kembali ke meja tempat pustakawan itu berada agar kartuku di proses. Sementara itu, Nash dan Padma masih sibuk foto-foto di bagian luar ruangan karena interiornya yang menawan. Walau pada akhirnya, mereka juga ikut membuat kartu anggota sebagai kenang-kenangan. 

Kami memasuki ruang utama perpustakaan tersebut, terlihat megah dan antik. Meja-meja di tengah ruangan penuh dengan orang-orang yang mencari referensi dan bekerja di komputer atau laptop masing-masing. Apakah kalian tahu perpustakaan Bapak Habibie? Well, this is the bigger and more “Woah!” version of it. Hahaha. Kami diperbolehkan memotret asal tidak menggunakan flash. 

Mengejar waktu yang sudah hampir menunjukkan pukul tujuh, kami pun langsung keluar dari ruang utama karena harus menuju ke New Amsterdam Theatre. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian kami. Semacam exhibition lukisan bertajuk “A Curious Hand” oleh Henri-Charles Guérard (1846-1897) yang dimulai pada 2 November 2016 hingga 26 Februari 2017. Ruangan pameran tersebut dicat merah. 

All Creatures Great and Small

Salah satu lukisan yang menarik perhatianku, Nash, dan Padma adalah “All Creatures Great and Small”. Lukisan bergambar anjing yang terinspirasi oleh hewan peliharaan milik Guérard sendiri. Puas berfoto-foto, aku tak lupa mengambil katalog pameran tersebut sebagai kenang-kenangan (aku juga melakukannya di Kantor PBB). 

Sebelum keluar dari New York Public Library, kami meminta salah satu petugas keamanan yang sedang berjaga untuk memotret kami bertiga, karena daritadi hanya ada potret individu, walau ternyata hasilnya gelap. Hahaha. Kami berfoto-foto sejenak di luar perpustakaan karena tadi langsung nyosor masuk ke dalam, mengingat perpustakaan sebentar lagi ditutup. Kami melewati Bryant Park yang terletak di belakang New York Public Library. Saat itu, hujan sudah reda sehingga aku tidak perlu susah payah memegang payung.


New Amsterdam Theatre sudah ramai dengan para penonton yang ingin menonton pertunjukkan Aladdin. As a musical enthusiast, aku sangat menantikannya. Biarlah kakiku sakit, telapak tanganku mati rasa, dan antingku hilang, yang penting aku dapat menyaksikan pertunjukan broadway secara langsung. 

Aku, Nash, dan Padma langsung mengontak teman-teman yang lain untuk menanyakan keberadaan mereka. Fatia dan Ariqo ternyata sudah di dalam. Kami menghampiri Ica dan Jessica yang berada di restoran McDonalds di sebelah teater. Kami bersama-sama menghampiri Kak Doni, Miss Nuniek, dan Pak Agus yang sedari tadi menunggu kedatangan kami untuk mengambil tiket di tempat penjualan tiket. 

Aku (agak) merengek Kak Doni, meminta tiket dengan nomor seat terdepan. Ternyata, aku, Nash, dan Padma mendapat tempat duduk paling atas dan paling belakang …. Why, Kak Doni, why? But oh well, at least it’s Broadway. Kami juga mendapat booklet musikal tersebut. Aladdin! Tahu-tahunya, kakak kelasku yang ikut HMUN tahun lalu berkesempatan menonton musikal favoritku, Matilda. Huhu. Tapi tak apalah. I’m good. Dan aku bahkan sempat-sempatnya live di Instagram sebelum pertunjukan dimulai.

Tiket Aladdin!

Hanif adalah satu-satunya laki-laki dari rombongan kami yang menonton musikal. Entah, katanya yang lain pada tertidur di hotel. I, a musical enthusiast, merasa kasian karena para lelaki itu telah melewatkan kesempatan emas untuk menonton pertunjukan broadway langsung di New York, bukan lewat internet yang hanya cuplikan-cuplikannya atau pertunjukan di TONY Awards. 

Okay. Scratch that. Pada kenyataannya, aku sempat tertidur pada saat pertunjukan berlangsung karena terlalu lelah berjalan kurang lebih tujuh kilometer keliling New York. Padma pun juga beberapa kali terlihat tertidur. I feel sorry, especially for Frilly, my musical-enthusiast-mate di kelas, karena aku tertidur. Yes, she’s mad at me for sleeping during the performance. LOL. Tapi daku sudah tak tahan :” 

Mataku sempat benar-benar terbuka pada saat mereka menyanyikan lagu A Whole New World. Who doesn’t know that song? Aladdin, yang diperankan oleh Adam Jacobs, dan Jasmine, yang diperankan oleh Courtney Reed, bersenandung di atas karpet terbang dengan visual effects yang memukau. 

My other favorite scenes adalah ketika Genie, yang diperankan oleh James Monroe Iglehart, menyanyikan Arabian Nights, juga ketika Aladdin menyanyi Proud of Your Boy. Oh! Dan opening Act II, dimana para cast menyanyikan Prince Ali (meski pada saat adegan tersebut aku setengah terkantuk). 

Overall, it was amazing and I blame myself for sleeping during the stage. Tiba-tiba kayak, “Hah? Udah abis? Seriusan? Ya ampun!” :( Rombongan kami pun langsung meninggalkan teater untuk kembali ke hotel. Ada yang menggunakan taksi. Kakiku sudah tidak kuat karena memakai boots, meski tidak basah. Kaki Padma dan Nash sudah basah terkena hujan karena hanya memakai running shoes, tapi mereka tidak terlalu pegal dan sakit karena alas running shoes jauh lebih empuk.

Gimana nggak capek, rutenya aja begini ....

Aku ingin sekali menaiki taksi. Tapi, Nash dan Padma membujuk untuk berjalan kaki, “Nanggung, Thi,” katanya. Ya sudah, aku ngikut. Kami melewati Times Square. Aku terus menutupi telingaku yang sudah sangat sakit dengan tangan yang dibalut sarung tangan. 

Kami membeli wraps di Chipotle terlebih dahulu di seberang hotel sebelum kembali ke hotel. Ketika Padma dan Nash sudah memesan, aku masih duduk terdiam terpaku (apa sih, Thi) di kursi karena telingaku yang super duper sakit. 

Bolang US: New York Edition ft. muka capek & rambut berantakan

Akhirnya kami sampai di hotel not in the right state of mind. Rambut dan muka udah nggak karuan, pegel dan capek, segala macemnya, lah. Tapi, worth it banget!!! Unfortunately, nggak ke Grand Central Terminal (padahal deket dari New York Public Library), Central Park (Padma and Nash went there for a jog, tho), dan Flatiron Building (yang memang jauh dari lokasi kami). Malam harinya, the boys yang baru bangun ngajak ke Times Square, dan nggak mau kalah, mereka ke Madison Square Garden juga. Turns out, hal yang kuceritakan di akhir postingan sebelumnya, dimana aku BM cokelat Hershey itu kejadiannya di hari ketiga. Hahaha. Maafkan sifat pelupaku, Kawan.

DAY 4
Pagi terakhir kami di New York. Ya, kami akan berangkat menuju Boston tempat diselenggarakannya Harvard Model United Nations 2017, the reason why we’re here. Seperti biasa, aku bangun sekitar pukul setengah enam, bersih-bersih, dan packing. Hari ini aku memakai running shoes karena tidak mau kakiku tambah pegal hasil ngebolang kemarin. Tiba-tiba, aku mendapat Line dari Gita yang minta ditemani ke Starbucks untuk mencari tumbler New York titipan kerabatnya. Alhasil, aku, Gita, dan Padma pagi-pagi sudah berjalan ke Times Square menuju Starbucks.

Pagi terakhir di New York

Times Square pagi-pagi masih belum terlalu ramai. Petugas kebersihan masih sibuk bekerja sebelum lokasi tersebut padat. Kami menyempatkan diri untuk foto-foto terakhir kalinya di Times Square. Aku sebenarnya ingin masuk ke toko Hershey dan memborong cokelat. Sayang sekali tokonya baru buka pukul sembilan. Dan ternyata, Gita tidak menemukan tumbler yang diinginkan sehingga kami harus mencari Starbucks lain. Untungnya, di dekat hotel ada Starbucks.

Kami dikejar-kejar waktu juga karena pukul tujuh pagi bis akan berangkat. Tidak terasa, ini sudah menjadi hari keempatku di US. Dan tiba-tiba aku sudah akan meninggalkan New York, the city that never sleeps. “Harusnya New York jadi tujuan terakhir, Miss,” aku, Aca, dan Padma komplain ke Miss Nuniek pada malam harinya.

Sarapan terakhir kami di Hampton Inn Manhattan Times Square North dapat dibilang biasa saja. Aku tidak lagi mengambil omelet seperti hari sebelumnya, hanya makan sereal dan minum susu. Aku juga mengambil beberapa sachet cokelat hangat untuk dibawa ke boston.

Bis putih bertuliskan Mr. BMJ yang dikemudikan Uncle Andy akhirnya muncul lagi setelah sehari yang lalu tidak dipakai karena full jalan kaki. Ketika semua koper telah masuk ke bis, kami berangkat menuju Woodbury Common Premium Outlet. Woodbury Common Premium Outlet adalah sebuah outlet yang terletak di sebuah desa di Orange County, New York. Ya, memang masih di wilayah New York, tapi sudah bukan New York City.

Perjalanan kesana saja membutuhkan waktu sekitar satu jam melalui jalan tol. Bis cukup sunyi pagi itu, mungkin teman-teman masih kelelahan. Aku pun tertidur di bis, dan bangun-bangun melihat sisa salju semalam di kiri dan kanan jalan. It was pretty. Selama tiga hari kemarin, aku belum pernah merasakan salju jatuh meski itu musim dingin. Malah merasakan hujan angin yang menyebalkan. Hahaha.

Tak lama kemudian, kami sampai di Woodbury Outlet. Tempatnya unik. Satu lokasi tersebut dibangun seperti perumahan, satu rumah per toko. Apalagi dengan sisa salju yang turun semalam, making the outlet looks like winter wonderland kind of thingy. Banyak brand-brand terkenal yang memiliki outlet di sana. Dan …, diskonnya gila-gilaan! Yes, I don’t really like shopping but who doesn’t love discounts? Ahahah. Tentu ada barang baru, namun kembanyakan adalah barang dari musim lalu yang dijual dengan harga lebih ekonomis.

Sebelum berkeliling, kami dikumpulkan di pusat informasi untuk dibagikan store directory sehingga mempermudah untuk mencari apa yang kami mau. Kami sepakat untuk kumpul pukul 1 di Market Hall yang berada di tengah. Toko pertama yang aku kunjungi adalah Adidas. I’m not a fan of shoes, but I regret not buying shoes in Woodbury. Aca saja bisa mendapat dua pasang sepatu only for USD 80! Heck I only got one dengan harga segitu ketika memutuskan untuk beli di Washington DC.

Lalu, aku dan Padma ke Kate Spade, sekedar window shopping karena ternyata Kate Spade memiliki dua toko. Kami juga masuk ke Bath & Body Works, Tommy Hilfiger, The North Face, dan beberapa toko lainnya. Di Kate Spade, ada satu dompet yang menarik perhatianku. Warnanya biru dan gambarnya paus. It was utterly cute! Apalagi diskon. Tambah cute, deh!

However, aku juga tertarik untuk membeli tas selempang. Ada beberapa desain lucu yang menarik perhatianku. Sayangnya, dompetku terlalu besar sehingga beberapa tas tidak cocok untukku. And guess what. I ended up buying the same bag as Padma. Selain desainnya yang lucu, tasnya juga bisa memuat beberapa kebutuhan pentingku seperti dopet, ponsel, hingga buku saku. Dan diskonnya 60% + 20%!!! Amazing, amazing!

Setelah itu, kami mengunjugi outlet Banana Republic. Iseng-iseng liat aja. Eh, ternyata, boxer yang dijual disana bertuliskan made in Indonesia. Jiaaah …, jauh-jauh ke US produknya buatan Indonesia. Hahaha.

Di sebelah Banana Republic, ada outlet J Crew. Di bagian depan, terdapat sweater yang menarik perhatianku, sweater dengan motif kotak-kotak berwarna merah. I was contemplating whether to buy it or not. Padma menyarankanku untuk mencobanya terlebih dahulu, dan ternyata muat, meski kupikir akan lebih pas di badanku jika sweater itu memiliki satu ukuran lebih kecil. Aku dan Padma mencari size yang tepat, namun hanya tersisa ukuran-ukuran kecil. “Beli aja, Thi, daripada nyesel,” itulah yang diucapkan Padma ketika aku masih bimbang. Diskonnya juga 50%. Weeps. Lumayan bisa dipakai selama masih di US. Hihi.

Iya, ini yang dimaksud winter wonderland-ish

Kami sempat berfoto dengan latar winter wonderland-ish itu. Ciaaa, udah bawa tentengan. Padahal di Indonesia, mah, jarang banget belanja. Wkwkwk. Aku dan Padma kembali berkeliling dan window shopping. Kami masuk ke toko Guess, dimana aku menemukan backpack lucu dengan diskon yang “Wah” juga.

“Beli, nggak, beli, nggak, beli, nggak, …” itu terus yang dipikirin dan dilontarkan. Apalagi aku harus hemat karena ini baru hari keempat. Masih ada sepuluh hari lagi, walau disini diskonnya paling mantap. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu. Aku dan Padma pun meninggalkan toko tersebut, dengan perasaan yang masih bimbang, berjalan menuju Market Hall.

Di Market Hall, sudah banyak teman-teman yang berkumpul. Apalagi the boys. Kami bergantian mengantri di Panda Express, sementara Kak Doni nongkrong di kasir, siap membayar makanan kami. Ternyata, salah satu petugas di restoran tersebut adalah orang Indonesia, sehingga kami lebih mudah berkomunikasi. Though using English is actually fine.

Sebelum memesan makanan, aku melihat porsi makan teman-teman yang ternyata banyak sekali, sehingga aku meminta porsi nasiku dikurangi. Eh, meski nasinya dikurangi, justru porsi lauknya ditambahkan. Hahaha. Ya sudahlah. Aku melihat Mila yang ternyata membeli lip balm dari Disney Store. Packagingnya lucu! Tapi, dalam hati, aku masih mau membeli backpack Guess yang tadi tidak jadi dibeli. Padma pun bersedia menemaniku lagi untuk kembali ke Guess, tapi sebelumnya kami ke Disney Store untuk membeli lip balm seperti Mila.

Disney Storenya memang tidak selengkap di Times Square, tapi kami melihat barang-barang lucu di sana-sini. Usai membeli, kami sekaligus mendapat reusable bag seharga USD 0.75. dari Disney Store, kami langsung menuju ke Guess. Aku membeli backpack Guess berwarna hitam. I forgot how much is the discount tapi yang jelas backpack tersebut adalah yang paling ekonomis diantara tas-tas lain di toko itu. And Padma ended up buying the same thing. So, yea. We have 2 twin bags.

Usai mendapatkan backpack tersebut, kami kembali ke Market Hall untuk makan. Rasanya makan jadi jauh lebih lega. Hahaha. Rata-rata pada membeli tas dan sepatu. The boys mostly bought bags for their moms. Cute. Ahaha.

Sekitar pukul 2, kami ke bis untuk melanjutkan perjalanan. For the first time in forever, aku menenteng banyak sekali paper bag, since I’m not a shopaholic. Hahaha. Perjalanan ke Boston kira-kira 3 jam menurut Google Maps. Unfortunately, jalanan macet. Wah, ternyata di US pun bisa terkena macet, ya.

Kami sampai di Hilton Boston Back Bay, tempat kami menginap seminggu ke depan, pada pukul 7 malam. Sembari menurunkan koper dan barang-barang lainnya dari bis, kami melihat ada beberapa rombongan lain yang tampaknya juga akan ikut dalam Harvard Model United Nations.

Belum sempat beristirahat ketika sampai kamar hotel, kami kembali kumpul di lobi untuk mencari makan bersama-sama. Teman sekamarku tidak berubah. Tetap Padma, Aca, dan Miss Nuniek. Seberang hotel kami adalah Sheraton Hotel tempat Harvard Model United Nations diadakan. Jika belok kanan, kami dapat melihat gedung-gedung Berklee Music College. Fun fact, teman seangkatanku, Manda, sudah diterima menjadi murid di Berklee Music College. Kakaknya pun berkuliah disana.

Ada beberapa fast food restaurant seperti Wendys, Dunkin Donuts, Pizzeria, dan yang lainnya. Kami dibagi menjadi dua kelompok, ada yang makan teriyaki, ada pula yang Wendys. Aku memilih Wendys karena sedang tidak mood untuk makan yang terlalu berat.

Ketika kembali ke hotel, masih terlihat beberapa rombongan yang baru sampai. Some of us were feeling triggered, actually. Aku pun begitu, belum merasa cukup melakukan research. Rencananya, aku dan partner double delegateku, Medina, akan melakukan research lagi pada malam itu. Namun, aku terlalu capek sehingga memutuskan untuk melakukannya pada esok hari.


NEXT:
Thia's Journey in the US: Harvard Model United Nations

PREVIOUS:
Thia's Journey in the US: It's New York

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1221288707966408.100002558717962&type=3 

Tulisanku tentang HMUN 2017 di PROVOKE!
http://www.thiafadhila.com/2017/04/tulisanku-tentang-hmun-2017-di-provoke.html

Read More

Thia's Journey in the US: It's New York!

Muthia Fadhila Khairunnisa 9:01:00 PM Be the first to comment!
Dream big, People. Dream big. Aku juga nggak kebayang sebelumnya. Anak rumahan yang ke mall aja jarang, tiba-tiba bisa ngeliat Patung Liberty? Bisa mejeng di Times Square? At the age of 16? Who would have thought? Selama aku di US, here’s what I thought the most, “Consider this a blessing. Nggak semua anak umur 16 tahun pernah menginjakkan kaki di negara adikuasa ini,”. What I did was, I tried to cherish every moment and make the most out of it.

DAY 1
After a long flight, akhirnya sampai juga kami di John F. Kennedy International Airport, New York. Setelah melalui beberapa pengecekan, kami keluar dari bandara, disambut dengan udara dingin. It wasn’t snowing that day. Beberapa dari kami “sok-sokan” ingin “mengetes” seberapa dingin udara di New York dengan tidak memakai coat ketika menyebrang dari luar bandara menuju bis.

Ya, sudah ada bis putih yang menyambut kami dan akan mengantarkan kami selama 14 hari ke depan, ditemani dengan dua orang, Uncle Andy as the bus driver, dan Kak Doni sebagai pemandu. Tujuan pertama kami adalah sebuah restoran Tiongkok untuk mengisi energi kami. Santapan pertama masih yang lidah Asia dulu, lah …. Hahaha

Jepretan sebelum sibuk dengan gadget masing-masing

Restoran tersebut terletak di lantai atas, dimana ketika kami memasukinya, bunyi dentuman piring terdengar di tiap penjuru restoran. Para pelayan gesit mengantarkan pesanan ke meja masing-masing. Alhamdulillah, kami akhirnya mendapat akses wifi. Ya, semenjak dari bandara, belum ada yang bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena kendala sinyal. Kami pun berencana ingin membeli kartu seluler lokal karena tarifnya lebih terjangkau daripada roaming. Serentak, tiap meja saling memberi tahu password wifi dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

Aku sendiri langsung menelepon mamaku. Meski itu adalah jam makan siang di New York, ada 12 jam perbedaan dengan Jakarta. It was almost midnight. Aku juga mengabari beberapa temanku. Sampai akhirnya makanan datang dan kami sibuk makan sambil sesekali melirik ponsel.

Setelah mengisi perut, kami menuju ke Manhattan Bridge, salah satu jembatan di New York yang dapat dilewati oleh pejalan kaki. Meski itu tengah hari, banyak warga yang berolahraga seperti bersepeda atau jogging. Sementara para wisatawan asik memotret keindahan view dari jembatan. Kami juga dapat melihat Brooklyn Bridge di seberang, salah satu jembatan tertua di US

Group pic in Manhattan Bridge

Puas berfoto di destinasi pertama, bis putih bertuliskan Mr. BMJ tersebut membawa kami menuju tempat kapal feri yang dapat mengantar kami ke Pulau Liberty. It is only the first day and we’re visiting the liberty!? Itulah yang terbesit dalam pikiranku ketika kami dibagikan tiket untuk menaiki kapal feri ke Liberty Island. Sebelumnya, ada pengecekan barang-barang yang kami bawa. And we experienced it in almost every destination in the next 14 days.

Most of us naik ke top deck untuk berfoto dengan latar belakang Manhattan skyline. And honestly I never thought I would see the Liberty up close this soon in my life. Sudah asik berfoto dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit, tiba-tiba patung Liberty sudah dapat dilihat dari dekat.

This one looks decent

Kami turun dari kapal dan diberi waktu bebas untuk berkeliling selama kurang lebih satu jam. Foto-foto is a must. Meski udara dingin dan cukup membuatku menggigil, aku tetap menikmati hariku di sana.

Usai berkeliling, kami kembali menaiki feri ke Manhattan. Sebelumnya, feri sempat berhenti di Ellis Island, pulau yang dulu merupakan pusat pengurusan imigrasi. Teman-teman juga bercerita bahwa topik Ellis Island pernah dijadikan wacana dalam tugas Bahasa Inggris.

Setibanya kami di Manhattan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, yaitu Wall Street. Bukan, bukan tempat kursus. Hihihi. Wall Street adalah nama daerah yang menjadi pusat perdagangan bursa saham dan perdagangan lainnya. Setiap minggu, akan ada tokoh dunia yang memukul gong tanda dimulainya perdagangan dunia.

Sama palang Wall Street. Hehe.

Langit mulai kelam dan diselimuti awan kelabu. Kami berjalan menyusuri tepi jalan dimana warga New York dengan gesit berlalu-lalang. Di tengah perjalanan, aku juga melihat Trinity Church, salah satu landmark di NYC. We stayed for a good 5 minutes in Wall Street, since the sky’s getting darker and rain starts falling.

Dari Wall Street menuju bis, kami sempat berhenti sejenak di September 11 National Memorial, sebuah air terjun buatan di lokasi tempat dulu gedung World Trade Center berdiri. Diiringi suasana langit yang kelam, rintik hujan mulai berjatuhan, dan derasnya air yang jatuh, aku melihat satu persatu nama korban yang tertera di sekeliling memorial.

9/11 Memorial

Setelah cukup lama berjalan kaki, kami pun sampai di bis dan kembali disambut oleh Uncle Andy. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 5 sore, kami menuju restoran untuk makan malam. Ternyata, restoran tersebut menyediakan makanan Indonesia. Ya, namanya juga baru hari pertama. Kami disuguhi soto, sate, and some other Indonesian cuisine. Though it’s not as good as what we usually have, karena Indonesia terkenal dengan ribuan bumbunya.

Bis melaju menuju hotel sembari mencari toko seluler yang menjual kartu perdana lokal. Beberapa toko sudah dicek, namun tidak ada yang memiliki stok untuk 31 orang. Hingga akhirnya, ada salah satu toko AT&T Mobile yang menyediakan kartu berisi paket data untuk sebulan. Kami mengantri di toko tersebut untuk membeli dan memasang sim card baru.

Kami sampai di hotel sekitar pukul 7. Hampton Inn Manhattan Times Square North. Yep, that’s where we’re staying for 3 nights. Aku sekamar dengan Aca dan Padma, yang merupakan teman sekelasku, juga Miss Nuniek. Just as I opened my luggage, tiba-tiba Aca dan Padma berencana untuk jalan-jalan sendiri, mengingat saat itu belum terlalu larut. Aku yang berniat mengganti pakaian pun langsung menutup koper dan menyambar coat-ku yang sudah digantung. Di lobi, sudah ada the boys yang bakal ikutan ke Times Square.

Berbekal panduan Google Maps dan Ariqo yang sudah mempelajari New York dari kakaknya, aku, Aca, Padma, Ariqo, Huda, Oliver, Satria, Hanif, dan Edra berjalan kaki ke Times Square. It wasn’t that far from our hotel, but heck I’m freezing. Apalagi tanganku tipe-tipe yang gampang kedinginan. Kena AC kelas aja kukuku sudah berubah warna jadi ungu. Gimana kena suhu winter yang hanya 1 digit? Hahaha.

Flashy animated billboards everywhere, Times Square proves us that New York is undeniably the city that never sleeps. I kept saying, “Whoa …,” as we walked to the center of Times Square. I even thought, “So this is the Times Square I’ve been watching in movies,”. Moreover, we passed by one of the broadway theaters. Holy. Fricking. Broadway!!! Norak, ya? Iya, maklum, ya. But hey, I bet some of you will have the same reaction as me when you visit Times Square.

Happy me is happy

Kami pun terbagi menjadi dua tim, the girls and the boys. The boys went to Foot Locker, I guess? Yea, boys. Sementara aku, Aca, Padma, dan Ariqo masuk ke dalam Disney Store. The store was just full of cute stuffs. Who doesn’t love Disney merchandise? Nope, not me. I feel satisfied even when I’m just looking at it. Di langit-langit escalator-nya, terdapat lampu-lampu yang digantung. It was utterly cute!

Keluar dari Disney Store, kami masuk ke Forever 21 yang kebetulan berada di sebelah. Most of the stuffs are similar to the ones they sell in Indonesia, tho. So there’s that. Setelah itu, we just casually stroll around Times Square.

Ternyata, Fatia, Gabby, David, dan Johan menyusul ke Times Square. Aku dan Ariqo menemui mereka, sementara Aca dan Padma menemui the boys. Di tengah-tengah Times Square, terdapat banyak badut, yang ternyata jika kami diminta oleh badut itu untuk berfoto dengan mereka, kami harus bayar. So, yeah, be careful of clowns when you visit Times Square! 

We also saw a couple (perhaps?) bickering (and even fighting). All those screams, bad words, the fight, we saw it. And that made me realize I’m currently in the US.

Sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri membeli pop cakes untuk Hanni dan Diedra yang berulang tahun keesokan harinya, tanggal 23 Januari. Oliver dan Huda kembali ke hotel duluan karena Huda mimisan (as I remember, he doesn’t wear coat?). Oh ya, funny thing is that ada anak HMUN yang ulang tahunnya tanggal 21, 22, dan 23. 21 Januari, saat berangkat, adalah ulang tahun Oliver. 22 Januari, ketika kami di Dubai dan sampai di US, adalah ulang tahun Yega dan Edra (yea, they celebrated their birthday twice), dan tanggal 23-nya adalah Diedra dan Hanni. Happy belated bday, y’all. LOL.

And … the adventure didn’t stop there. Ketika the boys udah ngacir duluan ke hotel, the girls decided to go for a pizza … at night. Di sini mah puas-puasin aja dulu, dietnya baru di Indonesia. Hihihi. Sebetulnya ada pizza di dekat hotel, but we didn’t know whether it’s still open since it’s almost 10 PM. So we stopped by at Famous Amadeus Pizza. By the time I wrote this my mouth is already watering. Unfortunately, the “big slices” sisa dua, if I were not mistaken, Aca dan Ariqo lah yang memakan potongan besar tersebut. Y’know, the typical NYC pizza, thin yet the size is twice as big as the ones in Indonesia. The rest of us, aku, Gabby, Fatia, dan Padma memesan “small slices” which turns out bigger than what we expected. Are we satisfied? Definitely.

Kami kembali ke hotel, realizing that restoran pizza yang tadi kami perdebatkan ternyata masih buka. Hahaha. But we’ll save that for tomorrow.

DAY 2 
Pagi-pagi, sekitar pukul 7, kami sudah berkumpul di lobi hotel mengenakan batik Labschool. Hari itu kami mengunjungi United Nations Headquarters dan Perwakilan Tetap Republik Indonesia. I didn’t bring any long john just like my friends, sehingga aku hanya mengenakan satu lapis pakaian dibalik coat-ku. Untungnya badanku cukup tahan dingin, hanya saja telapak tanganku tidak kuat. Hihihi.

Bis Uncle Andy sudah menunggu di depan hotel. I had fun looking at the view. Gedung-gedung pencakar langit di sisi kanan dan kiri, lalu lintas yang tidak terlalu padat because New Yorkers prefer walking or taking the subway. Oh, and one thing that caught my attention is, di gedung-gedung tersebut, mereka mengibarkan bendera Amerika Serikat. Shows what we call nationalism.

Perjalanan ke Kantor PBB tidak terlalu lama, mungkin sekitar 15 menit. Kami langsung turun dari bis, berfoto-foto sembari menunggu Kak Doni mengambilkan kami tiket masuk. We’re here for a tour.

Di depan United Nations Headquarters

Sebelum masuk, dilakukan pengecekan barang di sebuah ruangan tertutup. Ketika keluar dari ruangan tersebut, kami harus berjalan lagi untuk masuk ke gedung utama. Terdapat patung-patung di halaman kantor. Ada patung bola dunia, dan sebagainya, yang merupakan hadiah dari berbagai negara. Aku meminta tolong salah seorang teman (was it Diedra? I forgot) untuk memotretku di depan salah satu patung. But suddenly, the wind blows, strongly. To the point aku juga tertahan untuk menerjang angin dan masuk ke gedung. Teman-teman yang tadinya juga masih ingin berfoto-foto, langsung berlarian masuk.

Kami menunggu giliran tur sambil melihat-lihat lukisan yang terpajang di ruangan. Ada tentang perang, kemanusiaan, dan sebagainya. Karena jumlah kami terlalu banyak, kami dibagi dalam 2 kloter. Aku masuk kloter kedua dengan pemandu yang berasal dari Korea. She’s pretty and nice!

Tur kami dimulai dengan perkenalan tentang PBB, latar belakang terbentuknya, and other general stuffs you might find on books or internet. Tujuan pertama kami adalah United Nations Security Council Chamber atau Ruang Dewan Keamanan PBB tempat para dewan berkonferensi. I love the fact that the chairs for the delegates are blue. And there are red chairs for the observers. Karena hanya ada 15 negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan, ruangannya terlihat jauh lebih leluasa. Setiap dua tahun, ada pergantian 10 negara yang menempati kursi-kursi di Dewan Keamanan, sementara 5 negara lainnya adalah negara permanen yang menang dalam peperangan. Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat ruangan-ruangan kaca tempat para penerjemah berbagai bahasa menerjemahkan konferensi secara langsung, juga untuk para jurnalis meliput. Di sisi depan, terdapat lukisan yang melambangkan perdamaian. Hm …, let me try my best to explain this one. So, basically, below, there are people dying with darker colors. And above, there’s a more sustainable living. The mural shows us that the UNSC is trying to achieve peace for the world.

United Nations Security Council Chamber

After that, we moved to the Trusteeship Council Chamber. Ada yang sudah pernah mendengar nama tersebut, sebelumnya? Dewan Perwalian, atau Trusteeship Council memang sudah tidak aktif semenjak tahun 1994. Tugasnya adalah untuk melakukan perwalian terhadap daerah-daerah yang diawasi oleh PBB. Kami tidak memasuki ruangannya, hanya melihat dari pintu.

Kami langsung menuju United Nations Economic and Social Council Chamber. What makes these chambers unique is that they have their own characteristics. Kalau tadi ada ruang UNSC yang memiliki mural tentang mencapai perdamaian, ruang ECOSOC memiliki nuansa orange. Yang menarik adalah, arsitektur ruangan tersebut sengaja membiarkan langit-langit di bagian belakang ruangan tersebut seperti pekerjaan yang “tidak selesai”, sementara bagian depannya sudah tampak megah. This shows that our world is developing for a better future. Sama seperti ruangan konferensi PBB yang lain, terdapat ruang kaca di sisi kanan dan kiri untuk penerjemah dan jurnalis.

United Nations Economic and Social Council Chamber (see the difference in the ceiling?)

Ruangan ketiga yang kami kunjungi adalah United Nations General Assembly Hall, yang mungkin paling familiar di antara ruangan lainnya karena paling sering muncul di media. Yap, ruangan besar bernuansa keemasan inilah tempat dimana para pemimpin dunia berkonferensi. Perwakilan 193 negara tersebut duduk sesuai abjad. Namun, abjad A tidak terus menurus duduk paling pojok depan. Terkadang, misal, abjad N duduk paling awal, dan yang lainnya mengikuti. Di sisi depan, terdapat dua layar besar dan satu logo PBB berwarna emas, serta podium. Di belakang para perwakilan negara, terdapat kursi-kursi untuk perwakilan dewan PBB lainnya. Pada sisi kiri dan kanan bagian belakang, terdapat mural abstrak yang melambangkan unity in diversity.

United Nations General Assembly Hall

Di sela-sela tur, kami diperlihatkan mural-mural lainnya yang terdapat di sekitar kantor pusat PBB. Ada juga landmines yang banyak dipakai di negara-negara konflik, sisa-sisa bom Hiroshima dan Nagasaki, juga beberapa benda lain seperti alat-alat perang.

Salah satu mural di United Nations Headquarters
Macam-macam landmines

After finishing the tour, I thanked the guide in Korean and told her that I’m currently learning the language. She answered me and said that my pronunciation is good. Ahaha, why, thank you. Kami masih ada waktu di PBB sebelum beranjak ke tempat lain. Aku memutuskan untuk membeli pin berlogo PBB yang pada akhirnya kusematkan di jas OSIS-ku

With the guide!

Oh, meskipun terletak di New York, kompleks United Nations Headquarters ini adalah teritorial khusus yang dimiliki oleh 193 negara. Kak Doni berkata bahwa kami bisa mendapatkan stempel khusus di paspor kami dari PBB. Unfortunately, the service doesn’t exist anymore. Selain pin, aku juga membeli perangko peringatan World Poetry Day tahun 2015. Lumayan untuk koleksi. Hihihi.

Destinasi selanjutnya adalah Perwakilan Tetap Republik Indonesia, atau Permanent Mission of Republic of Indonesia to the United Nations. Bukan, PTRI bukanlah duta besar, melainkan perwakilan Indonesia untuk PBB. Orang-orang PTRI inilah yang ikut serta mewakili Indonesia dalam konferensi-konferensi di PBB. Kantornya pun tak jauh dari kantor pusat PBB, jalan kaki juga sampai

Di PTRI

Kami disambut oleh first secretary PTRI, Ibu Indah. Juga deputy permanent representative, Ibu Ina. Selain mengetahui lebih lanjut mengenai struktur dan tugas PTRI, kami melakukan dialog interaktif yang merujuk kepada persiapan untuk Harvard Model United Nations.

... Perpustakaan di PTRI

Ternyata, untuk menjadi duta besar atau perwakilan Indonesia di PBB tidak harus jurusan Hubungan Internasional, lho. Seingatku, Ibu Indah merupakan lulusan sastra Perancis. Mereka bercerita bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang paling ditunggu-tunggu negara lain untuk angkat bicara dalam konferensi.

Mengunjungi PTRI rasanya seperti belajar PKn di luar kelas. Told ya, belajar itu tidak harus terus-terusan duduk mendengarkan materi dari guru. Luckily, kami mendapatkan penjabaran materi dari orang PTRI langsung yang kebetulan berhubungan dengan materi PKn kelas 11, yaitu Hubungan Internasional.

Setelah bincang-bincang seru, kami disuguhi santap siang. Lagi-lagi ketemu sama makanan Indonesia. Yeay! Apalagi makanannya bakso. Wah, asik. Sebelum meninggalkan PTRI, tentunya kami menyempatkan diri untuk foto-foto di depan gedung, meski anginnya sangat kencang. Dan lagi-lagi, sebelum naik ke bis, aku dan beberapa temanku harus menerjang angin kencang yang tiba-tiba berhembus. Hahaha. Rambutku sudah makin nggak karuan saat itu.

See how windy it was!?

Usai mengunjungi PTRI, saatnya belajar hal baru tentang laut, pesawat, dan luar angkasa di Intrepid Sea, Air & Space Museum. Museum ini dapat dibilang cukup unik karena terletak dalam sebuah kapal, yang di bagian atas terdapat jejeran pesawat. Beberapa dari kami berganti menjadi pakaian casual. Kami dipandu tour guide untuk berkeliling melihat museum. Setelah tur, kami diberi makan lagi, kali ini semacam tortilla wraps, in which I didn’t finish since I’m still full. Uniknya, kami harus melewati ruangan dengan I don’t know what but it’s definitely hot untuk sampai ke ruang makan yang berada di bagian bawah kapal.

Us looking so done with the wind

Kami juga diberi waktu bebas untuk berkeliling bagian space. Hujan mulai turun rintik-rintik, angin juga makin lama makin kencang, sehingga I don’t have much photos there, sadly. Sebagai oleh-oleh, aku membeli perangko bernuansa luar angkasa. Well, actually nggak bisa disebut sebagai oleh-oleh juga, tapi untuk koleksi pribadi. Hihihi.

Trying to smile as the wind blows

Sebetulnya, banyak pilihan merchandise. Mulai dari boneka, figur pesawat, gantungan kunci, even bola peramal itu ada. HAHA. But idk those aren’t my things, hence I chose stamps. Aku menunggu Gita dan Padma yang masih sibuk memilih barang untuk dibeli. And I just realized that we were the only one there, yang lain udah nggak ada. Aku, Gita, dan Padma mencari-cari rombongan kami. Bolak-balik dari satu gedung ke gedung lain yang sudah kami lewati, namun hasilnya nihil.

Aku pun akhirnya bertanya kepada salah satu penjaga pintu, and she said, “Your group was there,” menunjuk salah satu bagian yang telah mengarah ke pintu keluar. Wanita itu mengenali pemandu kami, Kak Doni, karena ia selalu memakai topi merah dan backpack. Sebelum keluar, karena sudah tak tahan, aku pun langsung lari ke kamar mandi. Lalu, kami pun bergegas keluar, mencari-cari bis yang ternyata benar sudah ada di depan museum. And, yep, we became the last one to arrive karena terlalu lama memilih oleh-oleh.

Kak Doni mengajak kami ke Kith, salah satu toko sepatu yang tahun lalu juga direkomendasikan oleh kakak kelas kami yang ikut HMUN. I’m not a big fan of shoes. Tapi, akhirnya aku turun dan ikut lihat-lihat. Kith ini selain toko sepatu, mereka juga menjual dessert seperti es krim. Nyesel, sih, nggak nyoba, karena waktu lihat di Instagram kayaknya enak gitu. Haha.

Selain ke Kith, kami juga ke Foot Locker atas permintaan para penggemar sepatu, literally most of us. Aku yang bukan penggemar sepatu pun memutuskan untuk tidur di bis, bersama dua atau tiga orang lainnya yang melakukan hal serupa.

Puas berbelanja di Foot Locker, kami kembali menuju hotel. Hari masih belum terlalu gelap. Kami dapat beristirahat sejenak sebelum makan malam. Makan malam hari kedua dibumbui cita rasa Meksiko. Yep, Chipotle! Restorannya ada di seberang hotel, but I guess all of us are too tired and lazy to go there, sehingga semua makanan di takeaway.

The boys mengajak ke Times Square lagi malam itu. Aku terlalu capek sehingga skip dulu. Tapi tiba-tiba BM cokelat Hershey. Jadi lah aku nitip ke mereka without mentioning the specific type of chocolate. Tapi, syukurnya, they got it right. Hershey’s Cookie Layer Crunch Caramel. Thanks, boys! That one is new and isn’t available yet in Indonesia, though. (special thanks to David yang udah di Line berkali-kali sangking BM-nya HAHA) So I ended up buying more to eat it at home. :p


NEXT: Thia's Journey in the US: Lost in New York
(P.S: Might be posted late since I have exams coming on my way!)

PREVIOUS:
Thia's Journey in the US: A Prologue 

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1221288707966408.100002558717962&type=3 

Tulisanku tentang HMUN 2017 di PROVOKE!
http://www.thiafadhila.com/2017/04/tulisanku-tentang-hmun-2017-di-provoke.html

Read More

Thia's Journey in the US: A Prologue

Muthia Fadhila Khairunnisa 6:27:00 PM Be the first to comment!

Okay. First of all, I would like to apologize for rarely making a blogpost. This trip was from the end of January. However, I just happened to write it now. Ahahah. I wrote bits of it (already 5 pages long!). Unfortunately, my laptop wasn’t being a good laptop, hence the file is gone. I decided to rewrite this now cause I really want to share my amazing experience. I will write and post this in parts, to prevent it from getting deleted (and having to rewrite all of this again ; v ;). 

Few days ago, I watched Critical Eleven with my mom and friends. There’s this tingling feel I felt during the movie since I watched it alongside the peeps who went to Harvard Model United Nations last January. Some scenes from the movie was taken in New York. Yes, that New York, the city that never sleeps. It automatically brought back our memories, our first four days in the US. 

Bareng mama, tante, sepupu

Semua berawal ketika guru PKn kami, Pak Satriwan, yang bercerita tentang salah satu kegiatan unggulan yang diikuti oleh murid-murid SMA Labschool Jakarta, Harvard Model United Nations. For those who don’t know, Harvard Model United Nations adalah lomba simulasi sidang Persatuan Bangsa-Bangsa yang diselenggarakan oleh Harvard University. Pelajar SMA dari berbagai penjuru dunia berkumpul mewakili salah satu dari 193 negara yang tergabung dalam PBB, berpidato menyatakan masalah yang dialami negara mereka, bernegosiasi, and we make a draft resolution to solve the problems. Sounds interesting? For a high school freshmen who’s not fully adapted yet to the high school life, it sounds TRULY interesting. I swear. Apalagi foto-foto kegiatannya dipajang di koridor sekolah. Bikin ngiler. P.S: Good luck for the 10th graders who are planning to apply! 

Dan daftarnya pun ternyata nggak seribet yang aku pikir. Cukup membuat essay sekitar 1.500-3.000 kata mengenai salah satu dari tema yang ada. The theme varies. Starting from women’s participation in government, protection for the disables during war, even ISIS. There were 25 themes in total and we can only pick one. Aku memilih tema mistreatment of the mentally ill. I remember finishing and submitting it to my teacher during the deadline. Pagi-pagi dateng ke sekolah terus nyelesain essaynya di perpustakaan bareng temen-temen. Emang perpus Labschool udah pewe abis, dah. Hahaha. 

Essay tersebut dikirim oleh pihak sekolah dan diseleksi oleh pihak Harvardnya langsung. Alhamdulillah, I got chosen as one of the 31 students who’ll spend 14 days in the US. Moreover, kami adalah satu-satunya delegasi dari Indonesia, bahkan Asia Tenggara, yang mengikuti Harvard Model United Nations. Though, we pay for all our expenses, including the training. Ya, sebelum berangkat ke US, tiap minggu, kami mengadakan latihan. The coaches, Kak Mayang, Kak Habib, dan Kak Radhiyan, adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang sudah berpengalaman memenangkan beberapa MUN baik skala nasional maupun internasional. 

Oh iya, kami juga tidak akan berada dalam satu ruangan, melainkan berkonferensi di komite masing-masing. My first choice was United Nations Human Rights Council. Sayangnya, kami tidak mendapat slot untuk komite tersebut. My second and third choices were UN Conference on Women and UN Social Humanitarian Council. I wasn’t there when we picked the council, karena sedang mengikuti penguatan HAM. Alhasil, dapet sisaan, deh. Antara UN Security Council dan Special Political and Decolonization Committee. Sempet gambling juga, mikirin the pros and cons of both councils. Akhirnya, aku ditempatkan di SPECPOL mewakili bersama Medina. SMA Labschool Jakarta mendapat dua negara untuk diwakilkan, Angola dan Yaman. Aku mendapat Yaman. 

Dan perjuangan para delegasi HMUN telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 21 Januari 2017. 31 siswa dan 2 guru pendamping, Miss Nuniek dan Pak Agus. Aku dan mamaku menikmati santap siang di bandara. When I was about to recheck what’s on my luggage, aku baru sadar bahwa kunci koperku tertinggal di rumah. Aku langsung meminta tolong ibu (sebutan untuk tanteku) agar mengantarkan kunci koperku ke bandara. 

Ketika teman-temanku membawa dua koper besar, aku hanya membawa 1 koper besar dan 1 koper kecil untuk kabin, that’s when I realized people actually bring an empty luggage to be filled with things they bought from their destination. Pardon me as a newbie traveler. LOL. 

 Pesawat kami take off pukul 18.04. Yes, I wrote every details of what I did during the flight in my notes. Aku membawa buku saku dan pulpen di tempat aku menaruh pasporku. But I ended up enjoying the trip a little too much that I forgot to write the details once I arrived in the US. Perjalanannya cukup panjang, 7 jam hingga ke Dubai untuk transit. Sekitar pukul 00.30, kami sampai di Dubai International Airport. 

Hello, Dubai!

I was feeling so dizzy during the flight, dan aku baru ingat bahwa obat-obatanku semua kutaruh di koper bagasi. Sesampainya di bandara, aku langsung menukar 15 Dolar Singapur menjadi 35 Dirham, dan membeli obat pereda pusing warna biru seharga 10 Dirham. 

Saat aku dan teman-teman sudah berkumpul, salah satu temanku berceletuk, “Yah, sayang banget, Thi. Kenapa nggak minta aja?” I swear asking people for the medicine is the last thing to do on my list. Makin menyesal lagi ketika aku diingatkan bahwa toko-toko di bandara menerima Dolar US sebagai mata uang. I should’ve exchanged the SGD into USD instead. Aargh! 

Me getting ready for the flight

Pesawat kami dari Dubai menuju US take off pukul 2 pagi waktu Dubai (GMT+4). Sebelumnya, aku dan beberapa temanku telah berganti pakaian menjadi yang lebih hangat dan sepatu boots. Aku sendiri membawa sweater, coat, gloves, beanie, and boots yang baru saja kubeli sehari sebelum berangkat di dalam koper kabin. Kali ini, perjalanannya lebih panjang, sekitar 13 jam. I don’t really remember anything but what impressed me the most is the food. Seriously, gotta give it for da food.

NEXT:
Thia's Journey in the US: It's New York!


Read More

Tulisanku Tentang HMUN 2017 di PROVOKE!

Muthia Fadhila Khairunnisa 10:55:00 AM Be the first to comment!

SMA Labschool Jakarta Ngerasain Simulasi Sidang PBB di Boston
Oleh  Muthia Fadhila Khairunnisa

28 February 2017

Belajar berdiplomasi juga ketemu temen baru dari berbagai negara. 

Apa rasanya berada di tengah sidang PBB di umur lo yang masih muda?
Apa rasanya ngomongin isu-isu dunia barengan anak-anak dari negara lain?
Nggak mungkin?
Eitsss jangan salah!!

Karena 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta ini ngerasain hal-hal yang disebutin di atas. Yass mereka terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti Harvard Model United Nations di Boston, Amerika Serikat.

Model United Nations merupakan simulasi sidang PBB yang menjadi ajang pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa untuk mengasah kemampuan diplomasi dengan membuat resolusi mengenai isu-isu dunia.

Model United Nations ini diadakan pada 26 - 29 Januari 2017 lalu. Sejumlah 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia Tenggara untuk mengikuti ajang ini. Dan dalam kegiatan ini, mereka terpilih untuk mewakili negara Angola dan Yaman dalam berbagai badan PBB.

Untuk lolos seleksi, mereka harus mengirimkan esai mengenai isu-isu dunia yang disajikan. Kemudian esai diseleksi langsung oleh pihak Harvard University. Dari berikut nama-nama yang terpilih:

Angola: Syafa Sakina Noer dan Andhika Mayangsari untuk Disarmament and International Security Committee, Hanni Hafsari Putri dan Diedra Nabila Adriansyah untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Carissa Nuryasmin Putri dan Jessica Fathin Humairah untuk Special Political and Decolonization Committee, Muhammad Syahreza Ishak dan Raden Abdullah Dimas untuk Legal Committee, Aurel Nafiz Johansyah untuk World Health Organization, Fatia Aisyah untuk World Trade Organization, Kamila Nurmafira Kusumaningdyah untuk Special Session on Terrorism, Gabriela Zurliana Said untuk World Conference on Women, Muhammad Athar Iswandi dan Yudhistira Ghifari Adlani untuk United Nations Environment Assembly, Rayhan Hanif Oetomo untuk African Union, Brigitta Gisbertha Samosir untuk World Bank, serta Salsabila Rizal Tarigan dan Satria Mahendra Brunner untuk Security Council.

Yemen: Muhammad Edra Adrian Prasetio dan Muhammad Saiful Adhim untuk Disarmament and International Security Committee, Mushaffa Huda dan Oliver Muhammad Fadhlurrahman untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Muthia Fadhila Khairunnisa dan Medina Auradanty untuk Special Political and Decolonization Committee, Natasya Nabila dan Padma Danti Umayi untuk Legal Committee, David Erick Christian untuk World Health Organization, Nashita Indira Susanto untuk World Trade Organization, Azzahra Motik Adisuryo untuk Special Session on Terrorism, Ariqo Mutiara Hairudin untuk World Conference on Women, serta Laila Azzahra untuk United Nations Development Programme.

Setelah terpilih, mereka juga harus membuat position paper yakni paper yang berisi pandangan negara yang mereka wakili mengenai topik yang akan dibahas sesuai komite mereka. Setiap minggu pun diadakan latihan persiapan seperti latihan pidato, bernegosiasi hingga membuat resolusi. Pokoknya persiapan matang sebelum terbang ke Boston.

Begitu acara, semua anak SMA dari berbagai negara menyampaikan pendapat mereka, membuat blok-blok sesuai posisi negara. Dan kemudian membuat resolusi untuk isu yang dibahas.

Sebelum mulai sidang, negara-negara harus mengangkat placard untuk menyatakan kehadiran mereka dan berbicara lantang, “Present!”. Di ruangan dengan lebih dari seratus lebih perwakilan negara, tentu para peserta harus bisa terlihat unik agar ditunjuk oleh Board of Directorsnya.

Nggak cuma soal berdiplomasi, dengan mengikuti Harvard Model United Nations bisa berkenalan dengan teman baru dari berbagai negara. Seru kan?

Tapi nggak cuma sampai di sana. Teman-teman dari SMA Labschool Jakarta yang menetap selama dua minggu ini juga melakukan wisata edukasi di empat negara bagian. Di New York, mereka mengunjungi United Nations Headquarter. Memasuki ruangan sidang asli yang dipakai perwakilan-perwakilan negara untuk merumuskan resolusi.

Di Boston, usai Harvard Model United Nations, mereka berkunjung ke Harvard University, Massachussets Institute of Technology, juga Georgetown University di Washington DC untuk mendapat penjelasan dari tour guide yang merupakan mahasiswa di sana.

Perjalanan berhenti di Washington DC. Selain dapat berdialog dengan para staf duta besar di bagian pendidikan dan kebudayaan serta perdagangan, Bapak Budi Bowoleksono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, juga ikut menjamu dan memperlihatkan kantornya. Nah kebayangkan serunya perjalanan temen-temen dari SMA Labschool Jakarta ini. Buat lo yang tertarik untuk jadi diplomat, ajang kayak gini jangan sampe lolos. Yuk, mulai ikut “Present!” di Model United Nations!


Sumber:
http://www.provoke-online.com/index.php/repro-corner/our-repro/7825-sma-labschool-jakarta-ngerasain-simulasi-sidang-pbb-di-boston

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1222694401159172.1073742220.100002558717962&type=3

Sedikit cerita tentang kegiatan HMUN 2017 ada di:
http://www.thiafadhila.com/2017/04/harvard-model-united-nations-hmun-2017.html


Read More