Loading

Sharing Menulis di Festival Literasi Jakarta 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 12:06:00 PM Be the first to comment!

Jum’at, 3 Juni 2016 lalu, aku diundang sebagai pembicara di acara Festival Literasi Jakarta 2016 oleh panitia dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sebetulnya aku sudah diberi tahu info ini semenjak aku mengisi di acara MGMP Bahasa Inggris di SMAN 8 Jakarta. Tetapi kegiatannya diundur beberapa minggu setelahnya. Cerita tentang kegiatan di SMAN 8 Jakarta itu bisa dibaca di link ini: Sharing di Seminar Guru "Gerakan Literasi Sekolah".

Acara Festival Literasi ini diikuti oleh berbagai sekolah yang membuat stand-stand mengenai literasi di sekolahnya. Mulai SD, SMP, SMA, para murid berlomba untuk unjuk bakat dalam bidang literasi, diantaranya mendongeng, pidato, sampai musikalisasi puisi. Acara ini diadakan di Universitas Trilogi Jakarta. Aku datang kesana bersama kepala sekolahku, Pak Fakhruddin, dan guru Bahasa Inggris yang waktu itu mengajakku untuk ikut mengisi di SMAN 8 Jakarta, Miss Arifah.

Sehari sebelumnya, aku diberi rundown acaranya oleh Miss Arifah. Disitu tertulis bahwa aku akan sharing proses kreatif menulis bersama penulis dari SMAN 39 Jakarta. Aku jadi teringat ketika mengisi di SMAN 8, ada guru SMAN 39 yang bilang bahwa beliau punya murid yang juga seorang penulis, yaitu Ayunda. Wah, akhirnya setelah lama tidak bertemu aku bisa sharing menulis dengan Kak Yunda!

Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berangkat dari sekolah setelah Jum’atan. Hari itu adalah hari terakhir PAT, jadi aku ke sekolah dengan membawa buku pelajaran yang diujiankan serta membawa satu tas lagi berisi buku-bukuku yang kutitipkan di ruang guru. Sesampainya disana, aku melihat banyak stand per sekolah yang menunjukkan karya-karya muridnya. Labschool, SMAN 13, SMAN 26, SMAN 36, SMAN 12, SMA MH Thamrin, SMAN 39, MAN 4, MAN 3, SMPN 1, SMPN 115, Santa Ursula, Don Bosco Pondok Indah, SMAN 8, Mentari School, SD Penabur 1, SDN Menteng 1, dan masih banyak lagi.

Kami langsung diantar ke tempat acara. Pak Fakhruddin dan Miss Arifah menonton, sementara aku masuk ke ruang tunggu dan bertemu dengan Kak Yunda yang sedang mengobrol dengan beberapa pengisi acara lainnya. Rupanya Kak Yunda sudah di tempat semenjak pukul 10, dan acara dimulai terlambat. Jadi, sepertinya jadwal kami tampil pukul tiga sore akan diundur. Kak Yunda juga cerita bahwa ia sempat bertemu Nabilah JKT48.

Aku akhirnya juga menonton rangkaian acaranya. Banyak yang hadir disana. Ada dari Kementerian Agama, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan banyak tamu undangan lainnya. Ternyata, Nabilah JKT48 dipilih sebagai Duta Literasi karena minatnya yang besar pada bidang membaca.

Sebelum tampil, aku bertemu Bapak Dr. Sopan Adrianto, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan provinsi DKI Jakarta. Aku juga bertemu Bapak Mohammad Husein yang jadi Ketua Panitia Festival Literasi Jakarta 20016 ini. Dan untuk kesekian kalinya, aku juga bertemu dengan Bu Desi dan Bu Yully, guru-guru yang sangat baik hati. Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berfoto bersama semuanya dengan mengikutsertakan buku-bukuku. Aku juga bertukar kartu nama dengan beberapa guru.

Saatnya aku dan Kak Yunda tampil. Aku sharing pengalamanku menulis dengan Kak Yunda di panggung utama. Kami membahas bagaimana kami mendapat ide menulis dan berinteraksi dengan siswa-siswi dari sekolah lain yang juga tertarik dalam dunia tulis menulis. Sayangnya, waktu berlalu begitu cepat. Setelah sharing, aku juga sempat diwawancara oleh Radar Online.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku mengitari stand, bertemu wajah-wajah yang kukenal seperti temanku saat SMP, atau teman yang kutemui saat mengikuti suatu kegiatan. Tak lupa berfoto dengan Kak Yunda yang juga langsung bergegas ke acara selanjutnya. Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah kembali ke sekolah.

Terima kasih kepada Bu Desi, Bu Yully, Pak Mohammad Husein, dan lain-lain yang menjadi panitia di acara Festival Literasi Jakarta 2016 ini dan telah mengundangku di acara keren ini. Semoga nanti aku bisa ikut berpartisipasi lagi dalam kegiatan literasi yang lain.

Terima kasih kepada Pak Fakhruddin dan Miss Arifah atas izinnya sehingga aku berkesempatan untuk bisa sharing di depan teman-teman dari berbagai sekolah. Terima kasih juga untuk guru-guru dan teman-teman yang selalu mendukung kegiatanku. Doakan agar aku bisa terus berkarya, ya. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1028401517255129&type=3

Read More

SMA Labschool Jakarta di Ajang FLS2N Jakarta Timur 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:48:00 PM Be the first to comment!

Senin, 16 Mei 2016, ketika aku masih asik mendengarkan penjelasan materi sosiologi oleh Pak Marsono, Ocal, sang ketua kelas, mengkodekan dari jendela kecil di pintu kelas bahwa aku diminta untuk keluar. Aku pun meminta izin Pak Marsono untuk keluar. Kata Ocal, aku dipanggil Bu Reni, guru Bahasa Indonesia, untuk membahas Festival Lomba Seni Siswa Nasional, atau yang biasa disebut FLS2N.

Seminggu sebelumnya, aku ingat Bu Reni pernah bertanya padaku mengenai kegiatanku di minggu-minggu itu. Aku menyebutkan bahwa aku juga masih harus menyelesaikan artikel untuk majalah sekolah dan Kompas Muda. Bu Reni juga menyampaikan maksudnya untuk mengajakku ikut FLS2N cabang perlombaan film pendek.

Di ruang guru, sudah ada Bu Reni dan Soka, murid X IPS 1 yang menjadi sutradara film 1991, Winner Labs Film Festival 2016. Sejak SMP pun, Soka juga sudah mengikuti lomba-lomba film pendek bersama Padma yang sekarang sekelas denganku. Bu Reni menjelaskan bahwa 2 hari lagi, tepatnya Rabu, 18 Mei 2016, akan diadakan FLS2N tingkat kotamadya Jakarta Timur di SMAN 36 Jakarta. Kami diberikan lembaran berisi ketentuan-kententuan lomba. Mulai dari tema, unsur penilaian, dan sebagainya. Saat itu juga, kami harus mulai menggagas ide, membuat naskah, dan mempersiapkan hal-hal lain. Bu Reni juga sudah membuat surat izin untuk kami tidak mengikuti pelajaran dan fokus pada lomba.

Aku, Soka, dan Ocal mulai brainstorming di TRRC, ruang rapat sekolah, dimana ada beberapa siswa lainnya yang ternyata juga sedang mempersiapkan diri untuk lomba poster dan kriya. Tema film pendek yang harus dibuat adalah ‘Sekolahku Inspirasiku’. Di saat mendadak seperti ini, otakku blank, meskipun terbesit beberapa skenario tidak tuntas di pikiran. Aku baru menyadari bahwa beban membuat film jauh lebih berat daripada menulis cerita yang seperti biasa aku lakukan. Saat mengikuti Winner Camp Lomba Menulis Surat ‘Generasiku Melawan Korupsi’, aku ingat materi skenario yang dibawakan oleh kak Gina S. Noer. Beliau mengatakan bahwa kunci membuat skenario adalah “Show, don’t tell”. Cerita tentang kegiatanku di Winner Camp Lomba Menulis Surat ‘Generasiku Melawan Korupsi’ bisa dibaca di link ini: Cerita dari Winner Camp LMS Pos Indonesia 2016.

Kebetulan hari itu aku juga membawa laptop sehingga bisa langsung mengerjakan skenario di laptop. Tidak lupa, aku memberi tahu mama kalau aku diminta mewakili sekolah untuk ajang FLS2N film pendek. Kuberi tahu tempat dan waktu lombanya, juga teknisnya bahwa segala sesuatu harus dikerjakan hanya bertiga. Mulai dari membuat skenario, syuting, editing, bahkan pemeran film itu. Sekaligus bertukar inspirasi dan mendapat aspirasi dari mama.

Soka tiba-tiba mengusulkan untuk membuat film pendek dari puisi atau lagu. Pada saat itu, kami sudah punya ide tentang pohon harapan. Aku langsung teringat akan puisiku yang kutulis beberapa waktu lalu. Isinya tentang pohon yang kujadikan perumpamaan. Soka pun setuju dengan puisiku dan aku mulai merancang skenario di sekolah berdasarkan puisinya. Tepat sebelum waktu pulang sekolah, skenarionya selesai dibuat. Meski filmnya nanti hanya berdurasi 5 menit, kami ingin menunjukkan sesuatu yang sederhana namun bermakna dalam film tersebut. Kami menunjukkan hasil skenarionya pada Bu Reni dan Bu Reni memberi masukannya. Kami juga memberi tahu bahwa besok kami harus mulai script reading, percobaan pengambilan gambar, dan percobaan editing sehingga butuh mengambil waktu belajar lagi.

Keesokan harinya, kami mengikuti pelajaran pertama dulu, yaitu penjas yang kebetulan hanya tes lari pada saat itu. Setelah tes, aku, Soka, dan Ocal langsung berganti baju dan menuju ke TRRC. Karena nantinya TRRC akan dipakai untuk rapat, kami pun pindah ke kelas XII IPS 1. Kelas 12 juga sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar sehingga kelasnya kosong. Kami mulai script reading. Menuliskan gambaran tentang adegannya, shoot dari angle mana, edit dengan filter apa, dan sebagainya. Tidak lupa menulis peralatan dan perlengkapan yang harus dibawa untuk syuting. Ocal dan Soka juga mulai mencoba mengedit video dengan video kucing yang sudah Soka ambil. Mengatur saturation, filter, oh, tugasku menulis skenario, ya.

Tidak hanya menjadi penulis skenario, aku juga menjadi pemeran utama dalam film ini dengan nama tokoh Gia. Soka menjadi pemeran pembantu, Tan. Ocal pun juga ikut berakting menjadi pak guru. Adegan Ocal di-shoot oleh Soka. Begitu pula sebaliknya, adegan Soka di-shoot oleh Ocal.

Hari perlombaan pun tiba. Kami memakai batik Labschool di hari Rabu. Kebetulan, hari itu sekolah libur karena kelas 12 sedang acara wisuda. Tetapi tidak ada libur bagi kami yang akan mengikuti lomba. Hahaha. Paginya aku meng-print lampiran yang harus diserahkan ke juri, berisi identitas peserta, sinopsis, naskah, nama pemeran, dan kru. Sebenarnya sudah aku print di rumah. Sayangnya, lambang DKI Jakarta yang harus terpampang di halaman pertama itu tidak berwarna karena tinta printer warnaku habis.

Kami berangkat juga tidak bersama guru karena guru-guru sedang menghadiri wisuda kelas 12. Dengan ditemani guru PPG, kami berangkat dengan Uber. SMA Labschool Jakarta berpartisipasi dalam enam cabang lomba. Film pendek, vokal, poster, kriya, membaca puisi, dan menulis puisi. Untuk vokal, poster, dan kriya, ada masing-masing satu perwakilan perempuan dan laki-laki.

SMAN 36 Jakarta memang tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Sesampainya disana, kami registrasi ulang dan menunggu pembukaan. Aku mulai was-was melihat siswa-siswi yang mondar-mandir membawa peralatan yang sepertinya digunakan untuk lomba film pendek. Soka dan Ocal membawa kamera lengkap dengan tripodnya. Namun, ternyata ada pula yang membawa kamera yang biasa kita lihat untuk liputan-liputan di televisi. Bu Ina, guru seni rupa, juga sudah mengingatkan untuk tidak terlalu berharap, yang penting melakukan yang terbaik meski dengan waktu persiapan yang tidak banyak.

Setiap cabang perlombaan dialokasikan ke berbagai kelas. Untuk film pendek, kelasnya bertempat di pojok, dekat taman belakang sekolah. Juri masuk dan membacakan ketentuan-ketentuan lomba. Ada sekolah yang membawa siswa-siswi lain selain tiga orang yang ikut lomba, untuk menjadi pemeran. Sayangnya, mereka tidak diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga orang dalam produksi film tersebut. Aku, Soka, dan Ocal yang mulai deg-degan hanya bisa berdoa sebelum lomba akhirnya dimulai pukul sembilan. Kami punya waktu enam jam sebelum waktu pengumpulan, yaitu pukul tiga sore. Target kami, tiga jam untuk syuting dan tiga jam untuk editing.

Adegan pertama adalah syuting Gia di bawah pohon. Karena filmnya maksimal berdurasi lima menit, kami mencoba membuat sesederhana mungkin dan hanya menggunakan dua lokasi syuting, yaitu di bawah pohon dan di dalam kelas. Setelah sekali take, aku berdiri untuk mengecek hasilnya, namun ketika meraba rokku, terdapat cairan lengket entah dari mana asalnya. Aku melihat ke tempat aku duduk dan menemukan getah pohon di sana. Sembari menunggu Soka dan Ocal berdiskusi mengenai angle dan yang lainnya, aku meminta izin untuk ke kamar mandi. Mencoba menghilangkan cairan itu, namun tidak bisa. Untungnya, aku membawa baju ganti yaitu seragam putih abu-abu, barangkali akan syuting dengan seragam itu. Aku pun mengganti rokku dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.

Ada adegan dimana aku menyenderkan kepalaku ke batang pohon. Ketika aku duduk di sisi yang berbeda dari tempat aku terkena getah pohon tadi, giliran rambutku yang terkena cairan lengket tersebut. Aku menghela napas. Belum apa-apa sudah sial, haha. Tetapi, pada akhirnya adegan di bawah pohon selesai dan kami masih punya waktu untuk syuting adegan di dalam kelas.

Untuk adegan kelas, kami memakai kelas yang memang dikhususkan untuk film pendek. Jaga-jaga tidak ada spidol, kami membawa spidol dari sekolah untuk menulis di papan tulis, seperti yang ada di dalam skenarionya. Ocal juga bertransformasi menjadi guru matematika. Agar totalitas, kami bahkan membawa kertas jawaban ulangan dari sekolah. Saatnya aku dan Soka beradu akting. Untungnya, film kami minim dialog dan rata-rata menggunakan voiceover, sehingga bukan menjadi masalah besar jika ada yang syuting satu ruangan dengan kami. Oh iya, di dalam ruangan juga terlihat OSIS dan MPK mengenakan jas yang mengawasi berlangsungnya acara.

Waktu menunjukkan pukul 12 dan terlihat seorang guru membawakan KFC untuk murid-muridnya yang sedang syuting. Kami pun membujuk para PPG yang ikut bersama kami untuk membelikan makanan yang sama. Akhirnya kami dipesankan McDonald untuk makan siang. Proses editing dimulai. Soka menjadi editor utama. Ocal bertugas menambahkan jika ada yang kurang. Sementara aku merapikan lampiran untuk diserahkan sembari membantu Soka memilih efek dan musik yang cocok dan ditemani snack yang dibawa Ocal dan Soka dari rumah.

Sekitar pukul setengah dua siang, anak-anak Labschool yang mengikuti lomba lain mulai berdatangan, mengambil makan, dan sekedar beristirahat karena lomba mereka telah selesai. Mereka juga menonton hasil karya kami sebelum kami serahkan. Kak Rasydan, yang ikut lomba vokal pria, menemukan kesalahan dalam penulisan FLS2N yang kami tulis menjadi FLSN karena terburu-buru. Padahal sebentar lagi pukul tiga dan kami sudah meng-extract file-nya menjadi .mp4 seperti di ketentuan. Sehingga dengan waktu yang kurang dari 15 menit lagi, kami harus mengedit dan meng-extract ulang videonya. Untungnya kami mengumpulkan tepat waktu dan merasa lega. Tinggal berdoa dan menunggu pengumuman.

Kami menunggu di kelas lain karena ruangan yang kami pakai untuk film pendek akan dipakai untuk penilaian juri. Setelah mengobrol-ngobrol, kami pun pindah ke aula tempat dilaksanakan pembukaan, menunggu pengumuman. Dua orang izin pulang duluan karena sudah dijemput, tersisa sembilan orang berbatik marun Labschool duduk berjejer ditemani tiga guru PPG.

Pengumuman dibacakan sekitar pukul empat. Pengumuman film pendek dibacakan terakhir karena masih dalam proses penilaian. Pengumuman pertama adalah pengumuman lomba baca puisi. Meskipun aku bukan peserta, aku juga ikut deg-degan. Juri membacakan, “Juara harapan 3 ...”. Spontan aku menoleh ke Soka dan berkata, “Oh, masih ada harapan.” yang bisa berarti dua, ada juara harapan, dan ada harapan untuk kami maju ke depan. Hahaha.

Perwakilan sekolah, Beby memang sudah dari SMP mempunyai bakat membaca puisi. Benar saja, Beby mendapatkan juara 2. Setelah itu, pengumuman lomba-lomba lain dibacakan. Satu persatu anak Labschool maju dan menerima piagam dan piala. Kak Rinda juara harapan 1 menulis puisi. Kak Luthfia juara harapan 3 lomba poster wanita. Kak Rasydan juara 1 vokal pria. Diva juara harapan 3 lomba kriya wanita. Aca juara 3 lomba vokal wanita. Tersisa satu lomba lagi dan kursi-kursi di antara aku, Soka, dan Ocal sudah kosong karena semuanya maju ke depan. Tersisa kami bertiga.

Pengumuman pemenang film pendek akhirnya dibacakan. Mulai dari juara harapan 3 hingga juara 2, nomor peserta kami tak kunjung disebutkan. Kami peserta nomor 7, lucky seven. Haha. Tiba saatnya juara pertama disebutkan. “Nomor peserta ... TUJUH!”. Aku langsung berdiri dan bersorak, begitu pula Soka dan Ocal.

Ketika sekolah lain hanya perwakilan satu orang yang maju, kami langsung maju bertiga ke panggung. Menerima piala bertuliskan Juara 1 Film Pendek. Ah, perjuangan tiga hari ini tidak sia-sia. Meskipun tertinggal pelajaran dua hari, aku masih bersyukur bisa membawa pulang piala di hari libur ini.

Setelah pengumuman selesai, kami semua berfoto bersama dengan piala dan piagam kami. Ini adalah tahun pertama SMA Labschool Jakarta ikut serta dalam lomba film pendek di FLS2N. Para peserta juara 1 dan 2 nantinya akan mewakili Jakarta Timur wilayah 1 untuk maju ke tingkat provinsi DKI Jakarta.

Teman-teman, mohon doa dan dukungannya, ya! ^_^


Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1027999300628684&type=3&pnref=story


Read More

Labs Film Festival (LFF) 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:48:00 PM Be the first to comment!

Pada 30 April lalu, di sekolahku, SMA Labschool Jakarta, diadakan malam penganugerahan Labs Film Festival. Labs Film Festival adalah acara tahunan SMA Labschool Jakarta dimana setiap kelas membuat film pendek yang diunggah ke YouTube dan dilombakan. Kelasku, dengan film pendek kami yang bertajuk "TITIK KOMA" berhasil membawa pulang 5 piala dari total 7 nominasi. Mulai dari Vianka sebagai Best Supporting Actress, Best Costume and Make Up yang disponsori oleh online shop Riva, Best Cinematoraphy hasil tangan-tangan emas Ocal, Best Script yang bahkan aku tidak menyangka berhasil mendapatkannya setelah bekerja sama dengan Baba, juga film kami sebagai Runner Up Labs Film Festival 2016. Selain itu, kami mendapat nominasi Best Editing dan Best Director.

Winner Labs Film Festival 2016 adalah film "1991" dari kelas X IPS 1 dan "Soul Changes" karya X IPA 5 sebagai 2nd Runner Up-nya. Meskipun begitu, Alhamdulillah kelasku berhasil membawa pulang piala paling banyak. Perjuangan kami mulai dari menggarap ide hingga editing tidak sia-sia.
Oh ya, Labs Film Festival ini mempunyai tim juri yang diketuai oleh Bapak Aryo Danusiri, yang merupakan sutradara film nasional. Beliau sangan support dengan kegiatan LFF ini.

Acara Labs Film Festival memang sudah diumumkan sejak Desember tahun lalu. Kami diberi waktu hingga pertengahan Februari untuk mengumpulkan film pendeknya. Bahkan, aku dan Ainul sudah mulai bertukar inspirasi semenjak liburan kami bersama Vabio dan Aliya ke Yogyakarta. Duh, tapi namanya anak SMA sekarang, ya, kelihatannya sibuk banget. Merumuskan ide yang fix aja akhirnya molor sampai awal Februari. Hahaha.

Berbagai meeting diadakan. Mulai di sekolah, di rumah Fatia, sampai sambil bersantai di Fat Bubble. Aku dan Baba, yang ditugaskan menjadi penulis skenario pun mulai membagi tugas akan menulis adegan-adegan mana sebelum endingnya ditentukan, karena skenario ini juga hasil sumbangan pemikiran teman-teman yang ikut berpartisipasi, bukan hanya buah pikir seorang atau dua.

Pada saat itu, kebetulan aku terpilih menjadi salah satu finalis Lomba Menulis Surat "GENERASIKU MELAWAN KORUPSI" yang diadakan oleh KPK dan PT Pos Indonesia. Ceritanya bisa dibaca di link ini: Cerita dari Winner Camp LMS Pos Indonesia 2016.

Jadi, selain harus menulis skenario, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk mengikuti final lomba tersebut. Karena deadline yang makin kesini makin dekat dan kami juga belum menentukan akhir dari ceritanya, aku dan Baba menyelesaikan skenario pada malam sebelum syuting. Itupun baru selesai setengahnya.

Selama aku mengikuti Winner Camp Lomba Menulis Surat di Bandung, teman-teman sudah mulai proses syuting adegan-adegan yang sudah jadi dalam skrip. Seperti adegan di sekolah dan di cafe. Untuk adegan cafenya, kami syuting di sebuah kafe di daerah Gading. Zafira dan Dean sebagai produser lah yang bertanggung jawab urusan perizinan. Setelah syuting di kafe, teman-teman melanjutkan syuting adegan toilet dan kelas di sekolah. Avi, bagian dari kelas kami yang pada awal semester kedua pindah sekolah juga menyempatkan diri untuk menjadi cameo sebagai teman dari Daffa yang berperan sebagai Dikka.

Sepulangnya dari Winner Camp Lomba Menulis Surat di Bandung, aku langsung bergegas untuk mengikuti les Bahasa Perancis di daerah Menteng. Aku tidak mau bolos selama masih bisa mengikutinya. Alhamdulillah perjalanan Bandung-Jakarta lancar, sehingga aku tidak terlambat les Bahasa Perancis. Kebetulan juga, aku sekelas dengan Ainul yang merupakan sutradara Titik Koma. Sepulang dari tempat les, aku dan Ainul menumpang mobil Khalya, teman sekelas kami di sekolah maupun tempat les, untuk mengantarkan kami ke Perpustakaan Nasional di Salemba. Aku dan Ainul akan melakukan survei tempat syuting.

Karena selama ini aku hanya bisa memandangi gedung Perpusnas dari luar, muncul ekspektasi-ekspektasi akan banyak hal yang akan aku temui di dalamnya. Membayangkan bahwa perpustakaan itu seperti perpustakaan di film-film, dengan rak-rak kayu, tempat membaca yang tenang, serta harum buku-buku koleksinya. Kemudian, ekspektasi itu hancur berkeping-keping di kepalaku ketika aku dan Ainul menginjakkan kaki di dalam. Hahaha.

Ternyata, oh, ternyata, di Perpusnas, pengunjung tidak dipersilakan untuk mencari dan mengambil buku yang ingin dibaca secara langsung, melainkan mencari referensi buku yang ingin dibaca, kemudian menyerahkannya kepada petugas perpustakaan untuk kemudian bukunya dicari. Ruangan berisi buku-bukunya tidak boleh sembarang dimasuki tanpa izin.

Aku dan Ainul menjelajah mulai dari lantai 1 hingga lantai 8. Di lantai 1, sebelum naik ke lantai sebelumnya, para pengunjung harus membuat kartu perpustakaan. Kami mengisi formulir online, kemudian langsung berfoto dan dicetak kartunya. Kartu itu digunakan untuk masuk ke daerah perpustakaan. Ditempelkan ke mesin seperti yang biasa dilihat di halte-halte Transjakarta. Di lantai 2, ada tempat untuk para pengunjung mencari referensi buku-buku yang ingin dibaca. Sementara dari lantai 3 hingga 8, ada ruang baca dengan topik yang berbeda-beda. Saat aku dan Ainul masuk, rata-rata pengunjungnya adalah anak kuliah yang sedang mengerjakan tugas. Mereka membaca sambil membuka laptop di ruang baca.

Setelah melihat-lihat Perpusnas, kami berjalan kaki ke Gramedia Matraman yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Kami melanjutkan proses pembuatan skenario sambil ngemil di Dunkin Donuts Gramedia Matraman. Aku dan Ainul membuat skenario sambil kontak-kontakan dengan Ocal, kameramen dan editor. Agar mempermudah, kami memutuskan untuk bekerja di rumah Ocal yang masih terletak di daerah Rawamangun. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, kami akhirnya naik bajaj. Tapi, sebelum itu, aku menemani Ainul makan mi ayam di depan Gramedia karena dia hanya membeli minuman di Dunkin. Padahal, waktu itu langit sudah mulai terlihat jingga dengan semburat ungu.

Aku dan Ainul brainstorming di rumah Ocal. Sampai saat itu, kami masih belum menemukan ending yang tepat. Berbagai scenario muncul di pikiranku. Ainul juga sudah sibuk corat-coret di buku catatannya. Sampai akhirnya kami sepakat untuk menambah adegan Dikka dan cita-citanya menjadi bos di perusahaan besar sebagai penghubung ide teman-teman yang lain.

Malamnya, aku dan Baba langsung menyelesaikan skenario. Aku dan Ainul juga sibuk menghubungi beberapa anak laki-laki di kelas karena adanya tambahan peran. Kami janjian untuk kumpul di sekolah pukul 7 besok paginya. Karena saat itu SMA sudah selesai UTS dan tidak ada sesi belajar intensif, sementara SMP sedang melaksanakan UTS, sekolah bisa dibilang cukup sepi. Sebelum ke sekolah, aku dan Baba meng-print dan memfotokopi skenario untuk dibagikan pada semua pemain dan kru. Meski sudah dibilang dating pukul 7, budaya molor rupanya masih ada di antara kami. Ada yang dating pukul 9, pukul 10. Dan kami pun baru memulai syuting adegan di kantin sekitar pukul setengah 11.

Selesai syuting adegan kantin, kami beristirahat sebentar sambil mengisi diari yang dijadikan diari Dara di film. Niatnya, sih, setelah itu langsung syuting di lobby sekolah. Tapi kami terlambat. Anak-anak SMP sudah berhamburan keluar sehingga lobby terlalu padat untuk dijadikan tempat syuting. Kami pun pindah ke gedung sebelah, gedung Grapari, dan melakukan syuting adegan Dikka, Laras, bersama ayahnya Laras disana. Dio, yang awalnya gabut dan tidak ikut campur dalam urusan film pun ditunjuk menjadi supir ayahnya Laras yang diperankan oleh Gibgib. Untuk mobil, kami pinjam mobil Tyrone, anak kelas X IPS 1. Iseng-iseng, aku dan Ainul numpang lewat dalam adegan itu. Hihi.

Setelah syuting adegan tersebut, kami kembali ke sekolah dan mengambil ruang putih di sekolah. Kami menyebutnya ruang putih, aku bahkan lupa nama ruangan itu. Yang jelas, ruangan itu digunakan untuk belajar, guru-guru memasukkan nilai, pokoknya serbaguna, deh! Aku ikut menjadi salah satu cameo adegan ini, sebagai pegawai perusahaan Dikka. Ya, adegan ini adalah adegan Dikka yang dilantik menjadi direktur perusahaan ayahnya Laras. Selain aku, ada Zafira, Baba, Dikka, dan Tyrone yang menjadi pegawai.

Perjalanan syuting hari itu masih panjang. Kami berniat menuntaskan semuanya hari itu, mengingat deadline yang tinggal sehari lagi. Lokasi selanjutnya adalah Perpusnas. Bagian perizinan kami (Yay, Japir!) berhasil meminta izin untuk meminjam tempat rak-rak buku untuk syuting. Kali ini, aku juga muncul sebagai ibu perpustakaan setelah Ainul bujuk semenjak kami menulis scenario di rumah Ocal. Aku menguncir rambut, memakai kacamata, dan cardigan cokelat muda. Satu hal yang aku ingat dari syuting di Perpusnas adalah, aku dikira petugas perpustakaan beneran oleh beberapa pengunjung. Mereka menyerahkan kertas kecil berisi buku yang ingin dipinjam. Aku hanya bisa tertawa kecil dan menunjuk ke petugas perpustakaan yang asli. Teman-teman di ruangan itu juga hanya tertawa kecil.

Karena sudah hampir setengah 4 sore dan kami semua belum makan siang, kami makan di tempat makan yang ada di seberang Perpusnas. Kami itu Daffa, Vianka, dan Firyal sebagai pemeran, aku, Ainul, Zafira, Dean, Ocal, dan Baba sebagai kru. Tyrone juga ikut.

Mataku bolak-balik menatap menu dan isi dompet. Beralasan ke toilet, aku, Dean, Ainul, dan Daffa keluar dari tempat itu dan malah memesan mi ayam 10 ribuan. Hahaha. Setelah itu, kami kembali ke tempat yang lain makan. Sisa tiga adegan. Adegan Dikka berkaca sembari merapikan jasnya di toilet, Dikka menulis surat untuk Dara di ruang kerja, dan adegan Dikka dan Laras pulang dari kafe. Tadinya, adegan toilet mau dilakukan ketika kami kembali ke sekolah. Tetapi, ketika melihat bahwa toilet di tempat makan punya lighting yang bagus, mengapa tidak? Adegan Dikka dan Laras juga seharusnya dilakukan pada saat syuting di kafe, namun, saat itu kami bahkan belum menemukan endingnya sehingga adegannya dilakukan di parkiran sekolah.

Kami kembali ke sekolah menjelang maghrib. Tersisa aku, Ainul, Ocal, Daffa, Vianka, dan Zafira. Jalanan kembali ke sekolah juga mulai padat dengan mobil-mobil orang pulang kantor. Kami memulai syuting lagi setelah maghrib untuk adegan Dikka menulis surat untuk Dara. Adegan itu juga pada akhirnya dilakukan di meja piket sekolah. Tempatnya terbuka. Zafira ikut berakting menjadi sekretaris Dikka.

Sudah hampir pukul 8 malam dan kami akhirnya sampai di adegan terakhir, adegan di luar kafe, di mobil Dikka. Ada satu adegan dimana Dikka time-lapse menunggu Laras yang tak kunjung balik ke mobil setelah berniat mengambil dompetnya yang tertinggal. Adegan itu akhirnya di-shoot menggunakan iPhone. Untuk membangun suasana, diputar lagu Bimbang, OST AADC 1. Tinggal adegan itu, ternyata Daffa mengalami kesulitan memutar lagunya karena lagunya otomatis terganti menjadi lagu lain. Setelah beberapa kali percobaan, kami meninggalkan Daffa sendiri di mobil untuk menyelesaikan adegannya.

Menuju pukul 8 malam, syuting akhirnya di wrap up. Eits, tapi perjuangan kami tidak sampai disitu. Masih ada proses editing yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Bagian editing kami serahkan ke Ocal yang memang sudah terbiasa mengedit untuk video-videonya di YouTube. Alhamdulillah, hasil kerja keras kami syuting hanya 3 hari tidak sia-sia. 5 penghargaan itu merupakan sebuah kebanggan untuk kelas kami, X IPS 2.

Ini adalah pengalaman pertamaku menulis scenario untuk film pendek. Mengikuti prosesnya dari awal sampai akhir. I learned new things from it. Props to all casts and crews for working hard. They said hard work won’t betray, and it’s true!

p.s:
Titik Koma sudah dilihat 6000 kali. Terima kasih, semua!
Bagi yang belum nonton bisa langsung meluncur ke link ini https://youtu.be/RHdRf80ArKY.
Kritik, saran, dan masukan sangat diperbolehkan, kok!


Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1027947910633823&type=3&pnref=story


Read More

Mural SMA Labschool Jakarta di Kompas Muda

Muthia Fadhila Khairunnisa 12:47:00 AM Be the first to comment!

Jumat, 10 Juni 2016, artikelku yang berjudul “Kebersamaan dalam Mural” dipublikasikan di Kompas MuDA, Koran KOMPAS. Artikel ini aku tulis bersama temanku, Dimas, yang juga merupakan panitia acara mural yang diadakan di sekolahku, SMA Labschool Jakarta.

Acara mural atau melukis dinding sekolah ini diadakan oleh SMA Labschool Jakarta sebagai salah satu cara kami untuk menyambut Hari Bumi Internasional. Dalam penulisan artikelnya, aku dan Dimas sempat mewawancarai murid-murid yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Kami juga dibimbing oleh Bu Ina (guru seni rupa) dan Pak Satriwan (guru PKn) hingga sampai ke tahap penerbitan. Kebetulan, teman-teman di kelasku juga banyak yang mengikuti kegiatan ini sehingga aku dengan mudah mendapatkan informasi dan cerita-cerita di balik layar persiapan mural bertajuk “Saksi Bisu Dimakan Masa”. Oh, iya, acara mural ini juga merupakan proyek Padma, teman sekelasku yang sebelumnya berhasil meraih Juara Harapan 1 Lomba Poster oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan GIZ PAKLIM.

Terima kasih untuk Bu Ina dan Pak Satriwan atas bimbingannya. Juga pada Pak Fakhruddin, kepala sekolah SMA Labschool Jakarta, guru-guru, dan teman-teman atas dukungannya. Ini adalah pertama kalinya tulisanku dimuat di koran Kompas. Doakan kedepannya bisa dimuat lebih banyak tulisan lagi, ya! Aamiin. Untuk teman-teman yang mengikuti kegiatan mural, kalian semua hebat karena sudah bisa menyebarkan pesan melalui cara yang tidak biasa. Terus berkarya, Teman-Teman!





Tulisan yang dimuat ada di link berikut:
http://print.kompas.com/baca/2016/06/10/Kebersamaan-dalam-Mural
http://print.kompas.com/baca/2016/06/10/20160609_Kata-Mereka?utm_source=bacajuga

___________________________________________________________________________________

TULISAN ASLI:


MURAL SMA LABSCHOOL JAKARTA, 
BERKARYA UNTUK BUMI 

SMA Labschool Jakarta baru saja menyelenggarakan acara mural. Mural adalah melukis di atas media dinding atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 80 siswa kelas 10 SMA Labschool Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati Hari Bumi Internasional, sekaligus memperindah lingkungan sekolah.

Pada bulan November lalu, salah satu siswi SMA Labschool Jakarta, Padma Danti Umayyi (16 tahun) berhasil meraih Juara Harapan 1 Lomba Poster di Kementrian Lingkungan Hidup dan GIZ PAKLIM. Lomba ini diikuti oleh siswa sekolah menengah seluruh Indonesia. Ia berhasil membawa pulang uang tunai sebesar Rp 10.000.000 dan digunakan untuk kepentingan bersama.

Sepulangnya dari perlombaan, ia mengajak teman-temannya untuk berpartisipasi dalam melakukan perubahan di sekolah dengan melaksanakan kegiatan mural. Mural ini diberi judul “Saksi Bisu dimakan Masa”. Kegiatan yang melibatkan siswa-siswi SMA Labschool Jakarta ini dilaksanakan pada hari Minggu, 24 April 2016 atau dua hari setelah Hari Bumi Internasional. Hari Bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang diadakan setiap tahunnya di seluruh dunia pada tanggal 22 April. Dicetuskan oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970, Hari Bumi dirancang guna meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet kita tercinta, Bumi.


Mengapa Mural? 
Kegiatan mural ini merupakan ide dari guru seni rupa SMA Labschol Jakarta, Ibu Saffa Inayati yang akrab dipanggil Bu Ina. Setelah berhasil menyelenggarakan pameran seni untuk murid-muridnya bertajuk “Goresan Citra Seindah Jiwa” pada Januari lalu, kali ini, Beliau membuat acara mural untuk mengembangkan hobi dan bakat siswa-siswi SMA Labschool Jakarta yang tertarik dalam bidang seni, juga yang peduli pada lingkungan.

“Sebenarnya acara mural ini rutin diadakan tiga tahun sekali,” tutur Bu Ina ketika ditanya mengenai latar belakang diadakannya acara mural. Kegiatan mural tahun ini ada kaitannya dengan lomba poster yang dimenangkan oleh Padma. Sebagai peraih juara pertama dalam lomba tersebut, Padma diminta untuk membuat proyek yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Setelah berdiskusi dengan guru dan teman-teman, kegiatan mural tahun ini akhirnya dilaksanakan dan menjadi bagian dari proyek yang digarap oleh Padma, tentunya dengan dukungan warga sekolah. Melalui kegiatan mural ini pula, Padma juga sekaligus menyebarkan ilmu yang telah ia dapat selama mengikuti lomba kepada teman-teman. Menyebarkan ilmu yang didapat tentu merupakan hal yang patut dicontoh. Terlebih, para peserta yang ikut serta dalam kegiatan mural ini berpartisipasi secara sukarela dan dapat menyampaikan ide juga keprihatinan mereka terhadap kondisi lingkungan hidup saat ini.

Bu Ina juga bercerita bahwa kegiatan mural ini adalah awal bagi murid-murid yang tertarik dalam bidang seni untuk melukis bersama, dan nantinya akan terus dikembangkan hingga karyanya bisa dipamerkan di acara nasional maupun internasional. “Dan yang terpenting adalah para peserta juga memiliki kesadaran akan pentingnya mencintai lingkungan hidup dan menyebarkannya melalui lukisan dan mural.” ucap Bu Ina.

Mural ini dibagikan dalam empat tema, yaitu: air, tanah, hewan, dan udara. Ada 14 tembok yang harus dilukis dan masing-masing tembok mendapatkan tema-tema spesifik. Tiap kelas harus mengirimkan dua tim untuk melukis dua dinding. Mural ini dibuat untuk menggantikan graffiti yang sudah menghiasi dinding SMA Labschool Jakarta sejak tahun 2008.

Proses yang dilakukan peserta kegiatan mural ini tidaklah mudah. Mereka harus bangun pagi dan pergi ke sekolah pada hari Minggu. Melukis mural di dinding yang besar dalam satu hari itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi, lukisan yang dibuat bukan hanya lukisan, namun juga harus memiliki makna.

Dengan dilaksanakannya kegiatan mural ini, diharapkan siswa-siswi SMA Labschool Jakarta dapat terpengaruh dan ikut serta dalam menjaga lingkungan, karena kita semua hidup saling berketergantungan dengan lingkungan. Bila salah satu faktor alam dirusak, tentu tidak hanya membahayakan sekitarnya, seluruh dunia pun dapat terkena dampaknya.


Tembok Labschool Berbicara 
Kini makin banyak cara yang digunakan generasi muda untuk mengekspresikan kepedulian terhadap lingkungan. Melakukan reboisasi, mengadakan penyuluhan, dan sebagainya. Siswa-siswi SMA Labschool Jakarta memilih untuk berbicara lewat mural-mural mereka.

Dinding Labschool yang dihias oleh warga Labschool ini memiliki desain dan makna yang beragam. Wajah orang utan dan burung cendrawasih dilukis oleh peserta mural dari kelas X IPA 1. Orang utan tersebut digambarkan dengan wajah yang sedih dan juga dengan pewarnaan yang abstrak dan tidak tegas, sehingga menunjukkan keberadaan orang utan yang hampir punah dan menghilang perlahan-lahan. Sementara, lukisan cendrawasih diharapkan dapat menjadi peringatan bagi semua akan cenderawasih yang hampir punah. Kelas X IPA 1 mengaku ingin ikut melestarikan cenderawasih walau hanya dalam bentuk lukisan.

Kelas X IPA 5 mengekspresikan kepedulian mereka terhadap habitat-habitat hewan. Mereka melukiskan hiu dengan slogan “The only tank sharks should have is the ocean”, yang artinya hiu seharusnya hidup di habitat aslinya, yaitu laut. Selain hiu, ada pula yang melukis beruang grizzly di tengah sungai, yang mengandung arti bahwa kita harus menjaga kelestarian sungai bukan hanya karena itu adalah habitat ikan, melainkan tempat mencari makan hewan seperti beruang grizzly.

Siswa-siswi kelas X IPS 2 membicarakan kepedulian mereka terhadap badak, juga lingkungan perairan dan daratan. Dengan latar berwarna kuning, kelas X IPS 2 melukis seekor badak dengan cula tumpul, dengan slogan “Why are you doing this to me?”, melambangkan bahwa badak sudah mulai punah karena culanya diambil untuk keperluan manusia, seperti dijadikan obat. Mural kedua bertemakan pertambangan, yang dibagi tiga sisi. Sisi kiri menggambarkan oil drill atau tambang di lautan yang mencemari air dan makhluk hidup di perairan tersebut. Sisi kanan menggambarkan tambang di daratan yang merusak lingkungan, seperti pohon yang ditebang dan tanah subur yang digali untuk mendapatkan hasil tambang yang mereka inginkan. Sementara gambar di tengah menggambarkan para makhluk hidup yang sedang memprotes perlakuan oknum-oknum di sisi kiri dan kanan.


Serunya Menghias Sekolah 
Melakukan kegiatan yang cukup melelahkan, pasti meninggalkan kesan sendiri pada peserta-peserta mural SMA Labschool Jakarta. Kebersamaan pun dirasakan sembari melukis dan berkarya. Banyak yang setuju bahwa acaranya mengesankan karena melukis di dinding sekolah merupakan sebuah pengalaman yang baru. Mereka beranggapan bahwa acara mural sangat bermanfaat bagi murid dan sekolah. Mural di SMA Labschool Jakarta berisi pesan-pesan juga peringatan untuk semua akan pentingnya lingkungan, sehingga diharapkan mural tersebut dapat menjadi pengingat akan alam bagi warga SMA Labschool Jakarta.

Para panitia juga sempat berbagi cerita mereka dalam mempersiapkan acara ini. Ternyata, acara mural SMA Labschool Jakarta hanya dipersiapkan dalam jangka waktu seminggu. Persiapan meliputi merancang tema besar dan teman-tema spesifik, membeli perlengkapan acara, seperti: cat, kuas, dan sebagainya, mengumpulkan ide dan inspirasi, membuat sketsa mural, melakukan sosialisasi acara di lingkungan Labschool, serta mengumpulkan peserta untuk ikut serta dalam acara mural.

Meski begitu, peluh keringat mereka terbayarkan dengan hasil yang membanggakan. Bahkan, para peserta ingin agar acara mural ini tetap dilanjutkan dan diadakan tiap dua atau tiga tahun sekali. Baik panitia maupun peserta, semuanya berharap semoga kedepannya pesan yang terkandung dalam mural-mural di dinding SMA Labschool Jakarta dapat tersampaikan. Selamat Hari Bumi Internasional!


Ditulis oleh: Muthia Fadhila Khairunnisa dan Dimas Nur Hasanto 


Kata Mereka 

Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta, 
Drs. Muhammad Fakhruddin, M.Si 
Kegiatan mural dilatar belakangi oleh keinginan menfasilitasi bakat dan potensi di bidang seni lukis yg dimiliki oleh para siswa. Momentum waktunya dirangkaikan dengan peringatan Hari Bumi Internasional. Mural yang dibuat oleh kelompok siswa, masing-masing memuat pesan yang diekspresikan melalui goresan karya lukisnya. Harapan ke depan progran ini terus berlanjut karena pastinya akan terus ada siswa yang perlu disalurkan bakat dan potensinya melalui mural.

Insyira Rahmitha 
Menurut saya, acara mural sangatlah pas untuk kita kalangan muda untuk melestarikannya, karena dengan adanya kegiatan mural dapat melingkup segala seni, pesan dan moral yg dapat berkesan dan menyentuh hati masyarakat yang melihatnya. Dengan dilestarikannya kegiatan seni disertai pesan yang baik merupakan awal mula kepedulian remaja masa kini terhadap lingkungan dan segala aspek untuk memajukan bangsa dan negaranya.
Lukisan mural yang paling terkesan menurut saya adalah hasil karya X IPS 1 dengan judul 'Asap Rokok' mengapa, karena judul tersebut sudah sangatlah cocok untuk dijadikan sebuah acuan untuk mural lingkungan dikalangan sekolah, bisa kita lihat kenyataan yang terjadi dengan anak-anak remaja masa kini, mereka sudah mengenal rokok tanpa memikirkan resiko yang akan mereka dapat, dengan dibuatnya mural asap rokok ini menurut saya dapat sangat membantu untuk menyadarkan pemikiran anak-anak remaja masa kini tentang sebatang rokok yang sebenarnya sangatlah mematikan.
Saya berharap untuk kedepannya, acara mural yang sangat mendidik dan juga seru dapat dilestarikan atau tetap dijalankan oleh sekolah-sekolah untuk menghias dinding sekolah mereka dengan seni yang indah dan juga pesan ataupun moral yang baik untuk dilihat masyarakat semua.

Abdanu Syakran 
Acara ini adalah ajang mencurahkan isi kepala dan hati tentang lingkungan hidup. Suka duka yang dialami mulai dari proses perancangan tema hingga pengecatan pun banyak. Yang paling menambah semangat adalah fakta bahwa kami mengecat tembok yang sudah sekitar delapan tahun belum dicat ulang. Tapi, dibalik itu, kami dikejar deadline proposal serta anggaran yang belum tersusun rapi. Setelah itu semua selesai, kami mulai tenang lagi dan pada hari pelaksanaan acara kami mulai bersenang-senang mengeluarkan isi kepala dan hati kami. Untuk kedepannya, saya harap akan ada acara seperti ini lagi, kalau bisa lebih spektakuler dari yang satu ini.

Wangi Soka 
Tidak pernah terlintas di benak saya sebelumnya untuk 'corat-coret' tembok sekolah, tapi kegiatan mural kemarin itu sangat seru! Kami melukis sambil bernyanyi, bercanda, sehingga capeknya tidak terasa. Dan setiap gambar punya makna tersendiri dibaliknya, jadi memang tidak asal gambar saja. Proses dari brainstorming sampe ngecat itu cukup panjang, tapi menjadi kenangan.
Mural yang paling berkesan, of course punya kelompok saya! Kami menggambarkan bahaya rokok dengan siluet orang sedang merokok yang lehernya diikat dengan batang berdurinya bunga mawar, di sebelahnya ada gambar paru-paru yg setengah sudah kotor dengan asap rokok dan setengahnya lagi masih bersih dengan bunga mawar merah.
Harapannya, semoga tembok-tembok yang kami lukis bisa menjadi inspirasi bagi yang melihatnya, kebetulan temanya adalah menjaga lingkungan hidup yang di zaman sekarang kesadarannya sudah mulai menipis.

Dissa Shafira 
Menurut saya, acara mural sangat bermanfaat bagi murid dan juga sekolah. Mural di SMA Labschool Jakarta juga berisi tentang pesan-pesan dan juga peringatan untuk kita semua akan pentingnya lingkungan, sehingga diharapkan mural tersebut dapat menjadi pengingat akan alam bagi warga SMA Labschool. Belum lagi, sekolah jadi terlihat indah dan terhiasi warna. Murid pun mendapatkan pengalaman dan ilmu karena telah melukis di atas bidang yang sangat besar yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Dapat berpartisipasi di acara ini juga menjadi sebuah kehormatan bagi kami karena dapat menggantikan mural SMA Labschool sebelumnya yang sudah kurang lebih 8 tahun mewarnai tembok Labschool.
Saya menyukai semua karya mural yang ada, karena mereka semua memiliki gaya yang berbeda-beda dengan warna yang beragam. Namun karya mural yang paling berkesan menurut saya adalah karya Denisa Trixie dan Ariqo Mutiara. Menurut saya karyanya sangat rapi dan sesuai dengan tema yang telah ditetapkan. Karya dari mereka sangat menunjukkan keindahan lingkungan tersebut. Saya tidak pandai dalam menggambar pemandangan jadi saya sangat menghargai mereka yang mahir.
Semoga mural dapat memberikan manfaat bagi sekolah dan untuk kedepannya mural dapat tetap dilestarikan oleh SMA Labschool Jakarta. Dalam beberapa tahun lagi, mural tersebut akan digantikan oleh adik-adik kami. Maka dari itu saya harap mereka dapat menggantikan mural kami dengan karya-karya yang lebih bagus lagi, tak lupa dengan menyisipkan nilai-nilai kebajikan pada mural tersebut.

Denisa Trixie 
Menurut saya, acara ini adalah acara yang positif, juga sebagai wadah siswa untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan pesan melalui media lukisan. Mural yang paling berkesan bagi saya adalah mural milik Dissa, yaitu lukisan orang utan, karena percampuran warnanya yang indah dan menarik. Harapannya, semoga karya kami bisa diapresiasikan dengan baik dan bisa menjadi motivasi kami tersendiri untuk terus berkarya.

Aviciena Shafa
Proyek ini merupakan pengalaman baru buat saya. Siapa sangka akan mendapat kesempatan untuk mencorat-coret tembok sekolah. Bukan hanya nyoret tembok, tapi disini kami bisa mengekspresikan diri. Selain bisa menunjukkan kalau kami semua yang ikut berpartisipasi dapat membuat mural sekreatif itu, kami juga membawa pesan untuk semua orang yang melihatnya. Sudah menjadi keharusan untuk kami saling mengingatkan agar bersama-sama menyelamatkan bumi.
Acara ini juga sangat berbeda dengan acara Labschool yang lain. Ini bukan lomba, tetapi ini acara untuk have fun bersama-sama. Walaupun panas-panasan dan baju kami dipenuhi oleh cat, ini sama sekali tidak merugikan. Jika dilihat tembok-tembok lainnya, sangat terlihat kalau teman teman kami sangat berbakat. Hasilnya juga sangat memuaskan.
Harapan saya, untuk kedepannya, proyek ini tetap dilanjutkan di SMA Labschool Jakarta. Semoga ini juga bisa menjadi inspirasi untuk teman-teman lain ikut serta dalam menyampaikan pesan melalui karya.

Andi Ainul 
Sebagai panitia, saya sangat suka dan mendukung kegiatan mural ini agar juga dilaksanakan di sekolah-sekolah lain. Dengan adanya kegiatan ini, siswa tidak lagi bingung untuk mengekspresikan dirinya sehingga kegiatan corat-coret di tembok bisa menghasilkan lukisan yang lebih bermakna yaitu mural.
Suka duka yang dialami pasti ada. Mulai dari kekurangan orang untuk menggambar mural, sampai masalah internal yang pada akhirnya bisa diselesaikan bersama sehingga acara terlaksana dengan senang dan gembira.
Harapan saya, untuk kedepanya, sekolah lain bisa mencoba mengadakan mural di sekolahnya. Selain menjadi penghias dinding sekolah, siswa juga dapat mengekspresikan kreatifitas mereka melalui media yang berbeda.

RM Daffa Dinan 
Acara yang seru. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi saya dan teman-teman. Harapan saya, semoga catnya tahan lama dan karya kami dapat dihargai masyarakat SMA Labschool Jakarta.

Ariqo Mutiara 
Acara ini menurut saya sangat bermanfaat, baik untuk siswa-siswinya yang diberi wadah kreativitas, juga bagi pihak sekolah yang lingkungannya dibuat lebih indah dengan kreasi-kreasi kami. Ini juga bisa menjadi salah satu solusi untuk sekolah-sekolah lain dengan banyaknya siswa yang kurang tersalurkan kreativitasnya sehingga melakukan vandalisme.
Untuk kedepannya, semoga acara ini bisa menjadi acara jangka panjang SMA Labschool Jakarta yang bisa dilakukan rutin beberapa tahun sekali sehingga karya-karya siswa dapat dinikmati dengan baik


Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1015617135200234&type=3&pnref=story


Read More

Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar dan Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 9:58:00 AM Be the first to comment!


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Mizan menyelenggarakan Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar 2016.

Tema KPCI 2016 adalah:
DENGAN KARYA KREATIF, CIPTAKAN INDONESIA YANG CINTA DAMAI

Ada 5 jenis lomba:

  1. Lomba Cerpen Kategori Pemula
  2. Lomba Cerpen Kategori Penulis
  3. Lomba Cipta Syair
  4. Lomba Cipta Pantun
  5. Lomba Mendongeng 

Persyaratan Pengiriman Karya untuk Semua Jenis Lomba:
  1. Peserta lomba adalah siswa Sekolah Dasar dan sederajat.
  2. Karya bertema "Dengan Karya Kreatif, Ciptakan Indonesia Yang Cinta Damai".
  3. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  4. Tidak menghasilkan karya yang mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI
  5. Hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba yang sejenis.
  6. Naskah diketik menggunakan komputer pada kertas HVS ukuran A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman ukuran 12, margin 4-3-3-3 cm.
    CERPEN: membuat satu judul sepanjang 3-5 halaman.
    SYAIR: membuat satu judul syair.
    PANTUN: membuat lima pantun.
    DONGENG: mengirimkan CD berisi video peserta mendongeng dengan durasi 5 menit.
  7. Setiap karya harus disahkan keasliannya oleh Kpala Sekolah (distempel dan tanda tangan Kepala Sekolah).
  8. Pemenang lomba dan peserta yang terpilih akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia mewakili daerahnya masing-masing, sekaligus pemberian penghargaan kepada para pemenang.
  9. Karya dikirim dua rangkap (sudah distempel dan tanda tangan Kepala Sekolah) disertai dengan fotokopi identitas diri (kartu pelajar dan biodata singkat: nama, tempat tanggal lahir, alamat lengkap, nomor telepon/handphone, e-mail, nama dan alamat sekolah, kelas) ke Sekretariat Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2016, ke alamat:
    Direktur Pembinaan Sekolah Dasar
    u.p. Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik
    Gedung E, Lantai 17 Kemdikbud
    Jalan Jendral Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat 10270

Beri keterangan lomba yang diikuti di sudut kiri atas amplop.
contoh: KPCI - Lomba Dongeng

Pemenang akan diumumkan di acara KPCI 2016.
Berhadiah tabungan pendidikan, trofi, dan bingkisan menarik.

Karya diterima paling lambat 13 Agustus 2016 (Cap POS).


Syarat dan Ketentuan lengkap dapat diunduh pada link di bawah ini:

https://drive.google.com/file/d/0B3g6ieaVgkOsMGlzb1FhaWVBd0k/view?pref=2&pli=1


Sumber:
Facebook KECIL-KECIL PUNYA KARYA
Blog KPCI MIZAN 2016 


 
Read More

Lomba Menulis Cerpen Geospasial “PETA UNTUK REMAJA INDONESIA 2016”

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:29:00 AM Be the first to comment!

Badan Informasi Geospasial (BIG) menyelenggarakan Lomba Menulis Cerpen tingkat SMP dan SMA.

Pilihan Tema:
1. Manfaat peta (pengetahuan geografi) untuk pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.
2. Manfaat peta (pengetahuan geografi) untuk pencegahan kebencanaan.
3. Manfaat peta (pengetahuan geografi) untuk memudahkan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Ketentuan Lomba:
1. Panjang cerpen 2.500-5.000 kata atau setara 6-10 halaman A4.
    Format penulisan: 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman 12 pt, margin 2,5 cm.
2. Biodata peserta dan surat pernyataan keaslian karya/naskah yang disahkan Kepala Sekolah
    (file diunduh melalui www.big.go.id).
3. Membuat tulisan singkat tentang Badan Informasi Geospasial (minimal 250 kata).
4. Naskah cerpen geospasial belum pernah dipublikasikan di media mana pun.
5. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
6. Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
7. Panitia berhak menggunakan karya tersebut untuk keperluan publikasi dan promosi.

Pengiriman naskah:
1. Naskah cerpen geospasial dikirim beserta lampirannya ke alamat email:
    lmc.geospasial@gmail.com dengan subjek:
    a. LMC Kategori A (untuk siswa SMP/Mts sederajat)
    b. LMC Kategori B (untuk siswa SMAMA sederajat)
2. Lampirannya sebagai berikut:
    a. Tulisan singkat tentang Badan Informasi Geospasial
    b. Lembar Biodata (ditandatangani dan di-scan)
    c. Surat pernyataan keaslian naskah (ditandatangani dan di-scan)
3. Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 2016

Sepuluh (10) naskah terbaik untuk masing-masing kelompok akan masuk seleksi FINAL dan diundang ke JAKARTA.

Hadiah Lomba:
Juara 1, 2 , 3, dan Harapan untuk tiap kelompok masing-masing juara mendapatkan trofi dan perlengkapan sekolah.
Total hadiah 43 juta rupiah.


Biodata Peserta dan Surat Pernyataan Keaslian Naskah dapat diunduh di sini

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia di:
SEKRETARIAT LMC GEOSPASIAL "PETA UNTUK REMAJA INDONESIA 2016"
PUSAT PENELITIAN, PROMOSI, DAN KERJA SAMA BIG
Gedung C Lantai 1, Jalan Raya Jakarta Bogor KM 46 Cibinong 16911
Telepon: (021) 87908763, 081281557080 (Kak Nana)
Website: www.big.go.id
Email: lmc.geospasial@gmail.com


Sumber:
http://big.go.id/lomba-menulis-cerpen-geospasial-peta-untuk-remaja-indonesia-201/
Read More

Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 5:36:00 PM 2 Comments so far

#‎ARKIMIZAN2016‬ siap mencari anak-anak kreatif bangsa ini.
Ayo, buat dan tunjukkan karya terbaikmu!



KETENTUAN LOMBA ARKI 2016


A. Lomba Menulis Cerita Pendek
Lomba menulis cerita pendek berbentuk fiksi. Siswa dapat menggali ide cerita berdasarkan kisah yang dialaminya maupun imajinasinya. Latar cerita mengangkat keseharian remaja.

1. Kriteria Penilaian
    a. Kesesuaian isi dengan tema: Istimewanya Keluargaku
    b. Struktur, pengisahan, dan bahasa:
        − Terpenuhinya aspek struktur (unsur intrinsik dan ekstrinsik) dan teknik pengisahan
        − Kekuatan pengisahan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia yang baik dan benar
           (diksi, kalimat, gaya bahasa).
        − Kekuatan menghidupkan cerita.
        − Isi:
            > Kesesuaian ide cerita dengan tema.
            > Makna dan/pesan yang disampaikan.
            > Nilai-nilai kehidupan/budaya yang ditawarkan.
        − Keaslian dan kreativitas:
           > Keaslian dan kekhasan (unsur baru) isi cerita
           > Aspek lain yang memperlihatkan adanya inovasi

2. Persyaratan Karya
    a. Karya cerpen diketik rapi dengan panjang antara 4 sampai 6 halaman, jarak 1,5 spasi,
        dengan jarak margin 4-3-3-3, jenis huruf Calibri atau Times New Roman, 12 pt.
    b. Karya dikirim dalam bentuk print out dalam amplop tertutup.
    c. Di sudut kiri amplop dituliskan “LOMBA MENULIS CERPEN”.
    d. Naskah cerpen untuk penjurian tingkat nasional paling lambat diterima Panitia/Juri
        satu bulan sebelum pengumuman. Batas waktu penerimaan cap pos 30 Juni 2016.
    e. Karya dikirim ke alamat:
        Sekretariat ARKI, 
        Jl. Cinambo 135 Cisaranten Wetan, 
        Ujung Berung, Bandung 40294

Unduh contoh cerpen, klik: di sini



B. Lomba Cipta Syair
Lomba menulis syair (puisi lama). Siswa dapat menggali ide syair berdasarkan kisah yang dialaminya maupun imajinasinya. Latar syair mengangkat keseharian remaja.

1. Kriteria Penilaian
    a. Kesesuaian topik dan tema dengan isi. Tema: Kasih Sayang Keluarga.
    b. Keindahan gaya bahasa (diksi, majas, dan rima).
    c. Kedalaman makna dan manfaat (membentuk karakter).
    d. Orisinalitas/keaslian karya (bukan plagiat).
    e. Kreativitas (kekinian, keberbedaan, kefasihan).

2. Persyaratan Karya
    a. Satu karya terdiri atas 5-10 bait.
    b. Setiap karya dilengkapi dengan judul di bagian atas tengah kertas,
        serta nama siswa dan sekolah di pojok kanan bawah kertas.
    c. Karya dikirimkan terketik rapi atau ditulis tangan dengan jarak margin 4-3-3-3,
        jenis huruf Calibri atau Times New Roman, 12 pt.
    d. Karya dikirim dalam bentuk print out dalam amplop tertutup.
    e. Di sudut kiri amplop dituliskan “LOMBA CIPTA SYAIR”.
    f. Naskah syair untuk penjurian tingkat nasional paling lambat diterima Panitia/Juri
       satu bulan sebelum pengumuman. Batas waktu penerimaan cap pos 30 Juni 2016.
    g. Karya syair yang dikirimkan memenuhi syarat-syarat syair:
        − Satu bait terdiri atas 4 baris.
        − Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata.
        − Baris pertama, kedua, ketiga, dan keempat berbentuk isi syair.
        − Dalam satu bait bersajak atau berima a-a-a-a.
   h. Karya dikirim ke alamat:
       Sekretariat ARKI, 
       Jl. Cinambo 135 Cisaranten Wetan, 
       Ujung Berung, Bandung 40294

Unduh contoh syair, klik: di sini.



C. Lomba Cipta Komik
Lomba menggambar komik strip. Siswa dapat menggali ide komik berdasarkan kisah yang dialaminya maupun imajinasinya. Latar cerita mengangkat keseharian remaja.

1. Kriteria Penilaian
    a. Kesesuaian isi cerita dengan tema: Keluargaku Superhero.
    b. Kualitas gambar dan panel komik.
    c. Konsistensi penggambaran karakter.
    d. Orisinalitas cerita dalam komik.

2. Persyaratan Karya
    a. Komik dibuat sebanyak 6-8 halaman (termasuk cover judul).
    b. Format hitam putih.
    c. Isi komik tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
    d. Komik digambar di media A4.
    e. Karya orisinal, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
    f. Karya dikirim dalam amplop tertutup.
    g. Di sudut kiri amplop dituliskan “LOMBA CIPTA KOMIK”.
    h. Hasil karya komik untuk penjurian tingkat nasional paling lambat diterima Panitia/Juri
        satu bulan sebelum pengumuman. Batas waktu penerimaan cap pos 30 Juni 2016.
    i. Karya dikirim ke alamat:
       Sekretariat ARKI, 
       Jl. Cinambo 135 Cisantren Wetan, 
       Ujung Berung, Bandung 40294

Unduh contoh komik, klik: di sini.



FAQ (FREQUENTLY ASKED QUESTIONS) ARKI 2016

1. Kak, ARKI itu apaan, sih?
ARKI itu singkatannya Akademi Remaja Kreatif Indonesia. ARKI ini merupakan kegiatan yang diadakan buat kamu yang punya segudang ide tapi bingung gimana cara ngeluarinnya dari kepala.

2. Kegiatan ARKI itu emang apa aja, sih, Kak?
Nah, di ARKI ini kita punya tiga jenis kegiatan lomba, yaitu:
1. Lomba Cipta Cerpen
2. Lomba Cipta Syair
3. Lomba Cipta Komik

3. Wah asyik ya Kak, siapa aja yang boleh ikutan ARKI?
Pelajar SMP (kelas 7 dan 8) dan SMA (kelas 10 dan 11) dari seluruh provinsi di Indonesia.

4. Kalo kita mau ikutan caranya gimana, Kak?
Cukup dengan mengirimkan naskah tulisan kamu dari lomba yang ingin kamu ikuti.
1. Setiap karya dikirim dua rangkap dan harus disahkan keasliannya oleh Kepala Sekolah (distempel dan ditandatangani Kepala Sekolah).
2. Karya yang dikirim disertai dengan fotocopy identitas diri, berupa kartu pelajar dan biodata singkat (nama siswa, tempat tanggal lahir, alamat lengkap, nomor telepon/handphone, e-mail, nama sekolah, alamat sekolah, dan kelas).

5. Kak, kalau aku kelas 9 SMP atau kelas 12 SMA apa tidak boleh ikut?
Peserta ARKI 2016 yang disarankan adalah yang berada di kelas 7 dan 8 SMP juga kelas 10 dan 11 SMA. Hal ini dikarenakan penyelenggaraan ARKI 2016 di akhir tahun ini. Nah jika peserta berada di kelas transisi yaitu 9 dan 12 maka akan menyulitkan peserta dalam mengurus administrasinya.

6. Tema dari setiap lomba itu sama atau berbeda?
Beda.
· Lomba Cipta Cerpen (tema: Istimewanya Keluargaku)
· Lomba Cipta Syair (tema: Kasih Sayang Keluarga)
· Lomba Cipta Komik (tema: Keluargaku Superhero)

7. Oh iya Kak, boleh tidak kalau misalnya kita mau mengirim lebih dari satu naskah?
Setiap peserta bisa mengirimkan lebih dari satu karya dan maksimal dapat mengikuti dua kategori lomba. Jadi kirim karya terbaikmu yaa.

8. Kirim naskahnya ke alamat mana Kak?
Seluruh karya dikirimkan ke alamat:
Sekretariat ARKI 2016
Jl. Cinambo No. 135 Cisaranten Wetan
Bandung 40294

9. Kapan Kak kita bisa mengirimkan karya kita ?
Mulai tanggal 1 Mei 2016 sampai 30 Juni 2016 cap pos.

10.Pengumuman peserta yang lolosnya kapan Kak dan kita bisa lihat dimana ?
Peserta yang lolos akan kita umumkan pada akhir Juli 2016. Pengumuman dapat dilihat di website ARKI dan nanti peserta yang lolos juga akan dihubungi oleh kakak panitia.

11. Kak jurinya itu siapa?
Untuk setiap kategori lomba disiapkan 3 (tiga) juri yang terdiri dari Redaksi Mizan dan tenaga ahli yang ditunjuk oleh panitia ARKI. Jumlah keseluruhan juri adalah 12 (dua belas) orang.

12. Kalau kita sudah lolos tahap seleksi naskah terus ngapain lagi, Kak?
Dari hasil penjurian naskah akan kita seleksi 2 (dua) wakil yang lolos tahap seleksi dari setiap provinsi yang nantinya akan ikut dalam puncak acara ARKI di Jakarta tanggal 26-30 September 2016.

13. Di Jakarta itu acaranya apa, Kak?
Nanti para peserta akan dilombakan kembali untuk mendapatkan juara dari setiap kategori. Di samping itu, para peserta juga akan mengikuti pelatihan (coaching) dengan para coach ahli dan tinggal bersama dengan Saudara Sebangsa yang menjadi volunteer dalam ARKI 2016.

14. Hadiahnya apa Kak kalau kita menang? Hehehe.
Hadiah berupa uang pembinaan jutaan rupiah, sertifikat, dan piala dari masing-masing kategori lomba yang telah ditentukan, yakni Juara 1, 2, 3, Harapan 1, 2, 3, dan Juara Favorit untuk keempat kategori. Selama ARKI berlangsung kalian juga akan mendapatkan berbagai souvenir menarik.

15. Kak kalau aku masih mau tanya-tanya lagi tentang ARKI, aku tanya ke siapa?
Twitter:@DARemaja
Website: remajakreatif.com


Keseluruhan FILE ARKI bisa diunduh di link bawah ini:






Sumber:
http://www.remajakreatif.com/2016/05/ketentuan-lomba-arki-2016.html
http://www.remajakreatif.com/p/faq-frequently-asked-questions-arki.html
https://drive.google.com/file/d/0B0SAj-1Knvt2c0tnSnJkODdKVDQ/view?pref=2&pli=1


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More