Loading

Tulisanku Tentang HMUN 2017 di PROVOKE!

Muthia Fadhila Khairunnisa 10:55:00 AM Be the first to comment!

SMA Labschool Jakarta Ngerasain Simulasi Sidang PBB di Boston
Oleh  Muthia Fadhila Khairunnisa

28 February 2017

Belajar berdiplomasi juga ketemu temen baru dari berbagai negara. 

Apa rasanya berada di tengah sidang PBB di umur lo yang masih muda?
Apa rasanya ngomongin isu-isu dunia barengan anak-anak dari negara lain?
Nggak mungkin?
Eitsss jangan salah!!

Karena 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta ini ngerasain hal-hal yang disebutin di atas. Yass mereka terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti Harvard Model United Nations di Boston, Amerika Serikat.

Model United Nations merupakan simulasi sidang PBB yang menjadi ajang pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa untuk mengasah kemampuan diplomasi dengan membuat resolusi mengenai isu-isu dunia.

Model United Nations ini diadakan pada 26 - 29 Januari 2017 lalu. Sejumlah 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia Tenggara untuk mengikuti ajang ini. Dan dalam kegiatan ini, mereka terpilih untuk mewakili negara Angola dan Yaman dalam berbagai badan PBB.

Untuk lolos seleksi, mereka harus mengirimkan esai mengenai isu-isu dunia yang disajikan. Kemudian esai diseleksi langsung oleh pihak Harvard University. Dari berikut nama-nama yang terpilih:

Angola: Syafa Sakina Noer dan Andhika Mayangsari untuk Disarmament and International Security Committee, Hanni Hafsari Putri dan Diedra Nabila Adriansyah untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Carissa Nuryasmin Putri dan Jessica Fathin Humairah untuk Special Political and Decolonization Committee, Muhammad Syahreza Ishak dan Raden Abdullah Dimas untuk Legal Committee, Aurel Nafiz Johansyah untuk World Health Organization, Fatia Aisyah untuk World Trade Organization, Kamila Nurmafira Kusumaningdyah untuk Special Session on Terrorism, Gabriela Zurliana Said untuk World Conference on Women, Muhammad Athar Iswandi dan Yudhistira Ghifari Adlani untuk United Nations Environment Assembly, Rayhan Hanif Oetomo untuk African Union, Brigitta Gisbertha Samosir untuk World Bank, serta Salsabila Rizal Tarigan dan Satria Mahendra Brunner untuk Security Council.

Yemen: Muhammad Edra Adrian Prasetio dan Muhammad Saiful Adhim untuk Disarmament and International Security Committee, Mushaffa Huda dan Oliver Muhammad Fadhlurrahman untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Muthia Fadhila Khairunnisa dan Medina Auradanty untuk Special Political and Decolonization Committee, Natasya Nabila dan Padma Danti Umayi untuk Legal Committee, David Erick Christian untuk World Health Organization, Nashita Indira Susanto untuk World Trade Organization, Azzahra Motik Adisuryo untuk Special Session on Terrorism, Ariqo Mutiara Hairudin untuk World Conference on Women, serta Laila Azzahra untuk United Nations Development Programme.

Setelah terpilih, mereka juga harus membuat position paper yakni paper yang berisi pandangan negara yang mereka wakili mengenai topik yang akan dibahas sesuai komite mereka. Setiap minggu pun diadakan latihan persiapan seperti latihan pidato, bernegosiasi hingga membuat resolusi. Pokoknya persiapan matang sebelum terbang ke Boston.

Begitu acara, semua anak SMA dari berbagai negara menyampaikan pendapat mereka, membuat blok-blok sesuai posisi negara. Dan kemudian membuat resolusi untuk isu yang dibahas.

Sebelum mulai sidang, negara-negara harus mengangkat placard untuk menyatakan kehadiran mereka dan berbicara lantang, “Present!”. Di ruangan dengan lebih dari seratus lebih perwakilan negara, tentu para peserta harus bisa terlihat unik agar ditunjuk oleh Board of Directorsnya.

Nggak cuma soal berdiplomasi, dengan mengikuti Harvard Model United Nations bisa berkenalan dengan teman baru dari berbagai negara. Seru kan?

Tapi nggak cuma sampai di sana. Teman-teman dari SMA Labschool Jakarta yang menetap selama dua minggu ini juga melakukan wisata edukasi di empat negara bagian. Di New York, mereka mengunjungi United Nations Headquarter. Memasuki ruangan sidang asli yang dipakai perwakilan-perwakilan negara untuk merumuskan resolusi.

Di Boston, usai Harvard Model United Nations, mereka berkunjung ke Harvard University, Massachussets Institute of Technology, juga Georgetown University di Washington DC untuk mendapat penjelasan dari tour guide yang merupakan mahasiswa di sana.

Perjalanan berhenti di Washington DC. Selain dapat berdialog dengan para staf duta besar di bagian pendidikan dan kebudayaan serta perdagangan, Bapak Budi Bowoleksono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, juga ikut menjamu dan memperlihatkan kantornya. Nah kebayangkan serunya perjalanan temen-temen dari SMA Labschool Jakarta ini. Buat lo yang tertarik untuk jadi diplomat, ajang kayak gini jangan sampe lolos. Yuk, mulai ikut “Present!” di Model United Nations!


Sumber:
http://www.provoke-online.com/index.php/repro-corner/our-repro/7825-sma-labschool-jakarta-ngerasain-simulasi-sidang-pbb-di-boston

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1222694401159172.1073742220.100002558717962&type=3

Sedikit cerita tentang kegiatan HMUN 2017 ada di:
http://www.thiafadhila.com/2017/04/harvard-model-united-nations-hmun-2017.html


Read More

Harvard Model United Nations (HMUN) 2017

Muthia Fadhila Khairunnisa 9:51:00 AM Be the first to comment!

Menginjakkan kaki di John F. Kennedy International Airport rasanya seperti sebuah mimpi bagiku. Disambut dengan mesin-mesin otomatis yang langsung mengolah data dari paspor kita, masuk ke bagian imigrasi, mengambil bagasi, kemudian menunggu bus.

Ini merupakan musim dingin pertamaku. Hanya dengan mengenakan baju hangat karena ingin “mengetes” suhu di luar, 31 siswa kelas 11 SMA Labschool Jakarta yang terpilih untuk mewakili Indonesia dan Asia Tenggara di 2017 Harvard Model United Nations, Boston, berlarian membawa koper ke bis putih dengan tulisan Mr. BMJ di sampingnya. Kami disambut ramah oleh Uncle Andy, supir bis yang akan mengantarkan kami ke empat negara bagian selama 14 hari.

Bersama dua guru, Pak Agus dan Miss Nuniek, serta satu tour guide, Kak Doni, yang mendampingi, kami menetap di New York selama empat hari, Boston selama lima hari, Philadelphia selama dua hari, dan tiga hari di Washington DC sebagai penutup.

Kegiatan utama kami, juga yang menjadi alasan mengapa 31 siswa ini berada di Amerika Serikat adalah untuk mengikuti simulasi sidang PBB di Harvard Model United Nations. Mewakili negara Angola dan Yemen di beberapa komite, seperti General Assembly atau Majelis Umum PBB, juga Security Council atau Dewan Keamanan PBB, kami berdebat selama empat hari untuk mencari solusi akan permasalahan yang tengah dihadapi dunia. Aku sendiri mewakili Yemen di Special Political and Decolonization Committee (SPECPOL) bersama Medina yang membahas tentang kolonialisme di luar angkasa.

Kami mengunjungi berbagai tempat menakjubkan. Mulai dari Times Square, United Nations Headquarter, Independence Hall, hingga White House dan Smithsonian Museum. Kami juga mendapat penjelasan mengenai Harvard University, Massachussets Institute of Technology, dan Georgetown University langsung dari mahasiswanya sembari melakukan tur keliling kampus.

Tidak hanya universitas, kami mengunjungi Natick High School dan menjadi siswa setengah hari di sana. Aku mengikuti kelas psikologi, sosial, dan menulis kreatif. Bersama Adhim, Jessica, dan Gabby, kami mempresentasikan Jawa Barat di depan para murid Natick dan banyak berdiskusi dengan mereka.

Mengisi waktu kosong, aku sempat bertualang keliling New York dan Boston bersama teman-temanku. Mengunjungi New York dan Boston Public Library, berfoto di depan Empire State Building dan Madison Square Garden, hingga melihat demo imigran di Boston.

Two weeks passed by so quickly. We ate our last dinner at that well-known Hard Rock Cafe after spending a good time strolling around DC. I learned new things everyday. I’ve adapted to my surroundings. I still have so much to explore not only on these four states, but all 50 states. And hopefully I can come back to achieve that goal. Thank you for the great experience, United States.




Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1221288707966408.100002558717962&type=3

Tulisanku tentang HMUN 2017 di PROVOKE!
http://www.thiafadhila.com/2017/04/tulisanku-tentang-hmun-2017-di-provoke.html

Read More

Launching of KKPK Class

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:47:00 PM Be the first to comment!

Kemarin, Minggu, 8 Januari 2017, ada kumpul-kumpul anak sekolahan di Gramedia Matraman, lho! Memakai sweater biru tua, siap menyambut semester baru. Ada apa, sih, sebenarnya?

Ya, hari itu ada acara peluncuran serial KKPK Class, serial baru dari Kecil-Kecil Punya Karya yang mengisahkan kehidupan empat sekawan, yakni, Karima, Kiki, Putra, dan Karin. Acara dibuka oleh MC dan hiburan lagu-lagu. Kemudian, aku bersama Kak Izzati dan Kak Rama berbagi pengalaman sekaligus kilas balik tentang pertama kali menulis KKPK kepada teman-teman yang datang. Kami juga dihibur oleh penampilan kabaret tokoh-tokoh utama serial KKPK Class yang asyik dan keren! Tak hanya itu, kami juga dihibur oleh beberapa lagu dari komunitas untuk Papua, sekaligus pemberian paket buku seri KKPK Class untuk teman-teman di Papua. Puncak acara tentu saja LAUNCHING OF KKPK CLASS yang dilakukan oleh Kak Yadi dan Kak Mida. Terakhir, kami melakukan mannequin challenge yang sedang tenar-tenarnya itu.

Before the event starts, I met Mr. Allan Schneitz, the Chief Operating Officer of Lifelearn from Finland, which is dubbed as the country with top educational system. My life as a writer was brought into the conversation, as he and his team in Finland is willing to open a new door for us, KKPK writers, to be able to convey our ideas better. Yep, that’s right, something new and special is coming for you guys and I’m excited! Who’s with me? Haha. 

Selain berbincang dengan tamu dari luar negeri, aku senang sekali bisa kumpul-kumpul dengan para alumni KKPK. Usai acara peluncuran, kami berkumpul di suatu tempat makan untuk berdiskusi tentang Satu Dekade Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI). Wah, tidak terasa, ya, sudah mau sepuluh tahun. Aku jadi ingat pertama kali mengikuti KPCI ketika kelas 4 SD, yaitu tahun 2009, yang bersamaan dengan peluncuran serial Pink Berry Club. Menginjak tahun 2017, delapan tahun sudah (yang berarti menginjak tahun kesembilan), aku bertemu dan bertukar cerita dengan kawan-kawan hebat. Kak Mida dan Kak Rama memberi sedikit bocoran tentang apa saja yang akan dilaksanakan untuk merayakan Satu Dekade KPCI. Kami, yang datang, juga melontarkan ide-ide untuk membantu memeriahkan acara. Senangnya bisa jadi bagian dari alumni KKPK dan KPCI.

Meski keesokan harinya aku sudah mulai kembali menjalani aktivitas sebagai pelajar, aku sangat senang dapat menghadiri peluncuran serial KKPK Class ini. Jarang-jarang juga aku bertemu dengan penulis-penulis lain karena kelihatannya sudah mulai pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Terima kasih untuk Kak Rama yang sudah mengajakku barengan bikin konsep buku untuk seri KKPK Class ini. Terima kasih untuk kakak-kakak DAR! Mizan yang sudah bekerja keras mempersiapkan acara keren ini dengan baik. Terima kasih juga untuk Kak Yadi, Kak Mida, Kak Riska, dan kakak-kakak lainnya yang sudah mengundangku dan Kak Izzati di acara launching ini. Terakhir, aku juga sangat berterima kasih pada teman-teman yang telah hadir. Aku senang sekali! Semoga di tahun 2017 ini KKPK Class menjadi serial yang dinikmati anak-anak Indonesia dan KPCI berjalan lancar. Aamiin.


NB:
Foto-foto lengkapnya ada di Facebookku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1195415683887044&type=3&pnref=story


Read More

Review Film “Bulan Terbelah di Langit Amerika 2”

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:02:00 PM Be the first to comment!

“Apakah Muslim penemu Amerika?” sebuah pertanyaan besar menyambut para calon penonton film “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2”.

Setelah sukses dengan kisah Hanum (diperankan Acha Septriasa) dan Rangga (diperankan Abimana Aryasatya) di “99 CAHAYA DI LANGIT EROPA” dan “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA”, alhamdulillah, aku dan mamaku Shinta​ Handini​ diberi kesempatan untuk menjadi salah satu penonton pertama film lanjutan kisah Hanum dan Rangga ini. Sabtu, 3 Desember 2016, kami diundang langsung oleh penulisnya, Kak Rangga Almahendra​ dan Kak Hanum Salsabiela Rais​ untuk menghadiri gala premier filmnya. Namun, kali ini Kak Hanum tidak bisa hadir ke gala premier film ini, karena sebentar lagi akan melahirkan. Semoga semuanya lancar dan sehat ya, Kak! Aamiin.

Gala premiere film Bulan Terbelah di Langit Amerika didakan di XXI Plaza Indonesia dihadiri oleh para kru produksi dan pemainnya, di antaranya ada Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Hannah Al Rashid, Rianti Cartwright, Ira Wibowo, Boy William, sutradara Rizal Mantovani, dan tentu saja Kak Rangga Almahendra sebagai penulisnya.

Sebelum mulai menonton, ada perkenalan para cast juga sedikit berbincang-bincang dengan mereka. Untuk film ini, para pemain melaksanakan syuting di dua tempat di Amerika, yaitu, New York dan San Francisco. Sebelum menonton film, Acha, yang menyumbangkan suara merdunya untuk soundtrack film ini, bersama Ade Omar, menyanyikannya di depan para penonton live. Ah, jadi makin tidak sabar rasanya!


video


Berawal dari Sebuah Koin 
Ya, semua berawal dari sebuah koin tua dengan sufix yang berpindah-pindah tangan ke berbagai pihak. Hanum, oleh Gertrude, atasannya, diminta untuk menulis sebuah artikel mengenai kebenaran apakah orang Muslim yang pertama menemukan Amerika, bahkan jauh sebelum Christopher Columbus menemukannya, dengan bayaran yang membuat Hanum tidak menolaknya. Gertrude juga memastikan bahwa Hanum harus mendapatkan buktinya. Salah satunya adalah sebuah koin. Koin yang desas-desusnya merupakan peninggalan penjelajah Muslim ketika pertama kali meninggalkan jejak di Amerika, tepatnya San Francisco.

Tak hanya koin, ada pula sebuah buku, yang setelah aku tanya Mbah Google, berjudul “1421 SAAT CHINA MENEMUKAN DUNIA”, ditulis oleh Gavin Menzies. Aku menjadi tertarik untuk membaca bukunya.


Sambil Belajar Sejarah 
Terakhir kali aku mendengar nama Laksamana Cheng Ho adalah ketika pelajaran sejarah di sekolah. Laksamana Cheng Ho adalah seorang penjelajah Tiongkok yang sudah merantau ke banyak daerah di Asia dan Afrika. Dan aku baru tahu kalau Cheng Ho adalah ternyata seorang Muslim! Aku juga belajar mengenai Suku Hui, suku Muslim terbesar di Tiongkok.

This is one of my favorite part of the film! Mempelajari sejarah dan budaya lewat film. Mengingatkanku pada drama-drama Korea yang memiliki setting waktu, tempat, dan latar sejarah kerajaan yang serupa dengan catatan sejarah asli, meski dimodifikasi dengan campuran alur cerita fiksi. Sejak saat itu, aku ingin sekali membuat film Indonesia lebih menarik dengan unsur-unsur sejarah yang dicampur fiksi. Dengan begitu, film dapat dijadikan media yang asik untuk mempelajari sejarah. Doakan agar impianku terkabul, ya!


Mempersatukan yang Terbelah 
Bhinneka Tunggal Ika, motto bangsa kita, merupakan motto yang sangat cocok untuk menggambarkan dunia. Begitu pula apa yang disampaikan Ibu Sylviana Murni setelah menonton film ini, “Unity in diversity,”. Kak Rangga memang mengundang ketiga pasangan calon pemimpin DKI Jakarta untuk menghadiri premiere film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Namun, hanya dua yang hadir, yang diwakili oleh Bu Sylviana Murni dan Pak Sandiaga Uno. Yang satu lagi? Entahlah. Hehehe.

Beruntungnya, aku dan mamaku menyaksikan film ini satu studio bersama dengan tokoh-tokoh besar. Ada beberapa studio yang dipakai untuk pemutaran film ini secara bersamaan. Di Studio 3 tempatku menonton, ada Ketua MPR Bapak Zulkifli Hasan, Bapak Amien Rais (yang merupakan ayah dari Kak Hanum), Ketua GNPF MUI Ustadz Bachtiar Nasir, Bu Sylviana Murni, Pak Sandiaga Uno, dan tentunya Kak Rangga Almahendra sebagai penulisnya. Juga hadir otak dibalik keistimewaan film ini, sutradara Rizal Mantovani, dan penata musik Joseph S. Djafar. Mereka berterima kasih kepada penonton dan meminta kami untuk terus menyebarkan kebaikan melalui film ini. Sementara para pemain yang lain, sepertinya menyebar nontonnya di studio lain.

Masih ingat kisah Stephan (diperankan Nino Fernandez) dan kekasihnya, Jasmine (diperankan Hannah Al Rashid), di film sebelumnya? Kira-kira, apakah mereka menjadi salah satu yang dipersatukan setelah terbelah?

Azima Hussein (diperankan Rianti Cartwright), masih dari film sebelumnya, menjalankan hidup baru bersama suaminya Abe, dan dikaruniai seorang anak perempuan cantik bernama Sarah (diperankan Hailey Franco). Sayang, ibu Azima tidak menyetujui pernikahan tersebut. Lantas, apa yang akan terjadi?

Juga dengan keluarga yang baru muncul di film ini, keluarga Peter Cheng (diperankan Boy William), yang merupakan keturunan Suku Hui. Apa yang menyebabkan perselisihan di antara Peter dan keluarganya?


Mulai 8 Desember 2016 
Film “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2” akan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 8 Desember 2016. Diperkirakan berbarengan dengan saat melahirkannya Kak Hanum. Wah, barengan juga sama ultah ke-11 adikku yang kecil, Raifasha Areza Fadhila (Arza). Hehehe.

Sekali lagi, aku berterima kasih kepada Kak Rangga dan Kak Hanum atas undangan gala premiere film yang indah ini. Aku semakin ingin mengejar cita-citaku membuat film dengan unsur sejarah.

Bersama para penonton lain, aku juga makin sadar akan kehebatan Islam, dilihat dari tangguhnya para pendahulu kita seperti Laksamana Cheng Ho, juga orang-orang Suku Hui. Film ini menegaskan bahwa Islam itu cinta damai, dan hatiku pun damai melihatnya.

Penasaran dengan koin, buku, dan sejarah yang aku ceritakan?
Apakah benar bahwa Muslim adalah penemu Amerika?
Yuk, jangan ragu untuk mengajak keluarga serta kerabat untuk bersilaturahmi sambil menonton buah karya Indonesia yang menghangatkan hati ini!
Pssst ... menurutku, filmnya lebih bagus dari yang pertama, lho! Penasaran, kan? ^_^


Trailer Film BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2


Foto-foto lengkapnya ada diFB-ku ini:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1161157557312857.1073742208.100002558717962&type=3&pnref=story


Read More

Sharing Menulis di KONFERENSI ANAK INDONESIA (KONFA) 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 5:18:00 PM Be the first to comment!

Rabu, 9 November 2016, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk berbagi pengalamanku menulis di KONFERENSI ANAK INDONESIA (KONFA) 2016, yang tahun ini bertajuk "Aku dan Jendela Dunia". KONFA 2016 ini sendiri berlangsung selama 4 hari 3 malam, yaitu pada tanggal 8-11 November 2016. Para delegasi KONFA 2016 terdiri dari teman-teman kelas 4-6 SD dari seluruh Indonesia, yang karya tulisnya berhasil mengungguli sekitar 1.800 karya tulis teman-teman lainnya. Hebat, kan!

Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, mengingat 7 tahun silam, aku adalah salah satu dari 36 delegasi yang duduk di posisi mereka. Ya, aku adalah salah satu delegasi KONFA 2009. Kami, delegasi KONFA 2009 pun berkesempatan menambah ilmu, berkenalan dengan kawan-kawan dari seluruh penjuru Indonesia untuk pertama kalinya, juga merumuskan deklarasi yang waktu itu mengungkit tema "Save My Food, My Healthy Food".

Dari rangkaian kegiatan KONFA 2016 yang didapat oleh para delegasi, aku berkesempatan ikut serta di hari kedua. Bahagia rasanya, aku berada di tengah-tengah anak kreatif penerus bangsa yang gemar membaca. Aku mengikuti perjalanan mereka dari pagi hingga malam bersama mamaku. Dari rumah, kami terlebih dahulu menuju Griya Patriya yang merupakan tempat penginapan para delegasi KONFA 2016 ini. Aku diharapkan sudah ada di Griya Patriya sebelum pukul 7 pagi. Alhamdulillah, sekitar pukul 6.10 aku dan mamaku sudah sampai di sana.

Di Griya Patriya, ternyata para delegasi masih sibuk bersiap-siap. Yang sudah siap, dipersilakan untuk sarapan. Aku dan mamaku yang baru datang, disambut oleh salah satu panitia. Kami dipersilakan duduk terlebih dahulu. Mamaku ternyata langsung menghubungi Kak Sigit Wahyu yang akan memandu kegiatan hari kedua ini. Kak Sigit segera turun dan menemui aku dan mamaku. Kami pun dipersilakan bergabung untuk sarapan bersama. Sambil sarapan, aku berkeliling menyapa adik-adik delegasi KONFA 2016. Sementara itu, mamaku mengobrol dengan Kak Sigit dan Kak Karto dari tim redaksi Majalah Bobo.

Selesai sarapan, seluruh delegasi KONFA 2016 diajak untuk masuk ke dalam bus. Tujuan pertama kami adalah Perpustakaan Habibie dan Ainun yang terletak di wilayah Jakarta Pusat. Begitu sampai di sana, aku kagum dengan arsitektur bangunannya yang memiliki filosofi tersendiri. Semuanya unik dan indah. Oh, ya, tadinya, di Perpustakaan Habibie dan Ainun ini, kami dijadwalkan untuk bertemu dengan Bapak B.J. Habibie. Tapi berhubung Pak Habibie harus menjalani pengobatan di Jerman selama 3 bulan, maka digantikan oleh anaknya yang bernama Pak Ilham Habibie. Jadi para delegasi akan bertemu dan berbincang dengan Pak Ilham Habibie.

Sembari menunggu kedatangan Pak Ilham, aku menghampiri peserta yang sibuk menulis daftar pertanyaan dan membaca buku. Ada yang menjawab suka membaca KKPK-ku, tapi dia tidak sadar kalau yang sedang bertanya adalah penulisnya. Hahaha.


Akhirnya, Pak Ilham Habibie datang juga. Beliau memang sangat sibuk. Tapi alhamdulillah bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu dan bercerita tentang Perpustakaan Habibie dan Ainun kepada para delegasi KONFA 2016. Pak Ilham bercerita kalau beliau lahir di Jerman. Pak Ilham juga bercerita banyak tentang buku. Mulai dari tidak adanya paksaan untuk membaca, hingga buku-buku favorit Bapak B.J. Habibie. Selain itu, Pak Ilham juga bercerita tentang sejarah kehidupan Bapak B.J. Habibie, terutama tentang pesawat-pesawat yang telah dibuat oleh beliau. Luar biasa. Kita patut bangga mempunyai putra bangsa seperti Bapak B.J. Habibie dan Bapak Ilham Habibie.

Setelah berbincang dengan Pak Ilham yang ditutup dengan sesi foto bersama, para delegasi berpindah tempat menuju Roemah 7A di Kemang. Meski bertegur sapa dengan hujan dan angin, semangat para delegasi KONFA 2016 untuk beraktivitas masih jauh dari kata lelah. Mereka kembali menerima materi keren yang sangat bermanfaat. Kali ini materinya mengenai mind-mapping yang dibawakan oleh pakar mind-mapping, Bapak Sutanto Windura. Di akhir sesi, para delegasi diminta membuat mind-mapping tentang hobi mereka. Waaah, keren-keren, lho!


Akhirnya, tiba giliranku untuk berbagi pengalamanku dengan adik-adik delegasi KONFA 2016. Aku memperkenalkan diriku, lalu bercerita tentang kegiatanku saat menjadi delegasi KONFA 2009. Setelah itu, aku mulai sharing tentang menulis. Di sela-sela materi yang kuberikan, aku menayangkan cuplikan film anak untuk memancing imajinasi mereka. Aku pun bertanya beberapa hal tentang film yang telah mereka tonton. Ternyata, mereka semua bisa menjawab semua pertanyaanku. Wiiih, kereeen! Di sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan tak terduga yang menggelitik dilontarkan oleh para peserta. Aku juga kagum dengan variasi buku yang mereka baca. Mulai dari KKPK, hingga buku Tere Liye, juga biografi tokoh-tokoh. Terakhir, seperti biasa, sesi sharing menulis dariku pun ditutup dengan foto bersama. Aaah ... dapat berbagi pengalaman dengan para delegasi KONFA 2016 merupakan sebuah kesempatan berharga sekaligus membahagiakan bagiku.

Terima kasih kuucapkan sebesar-besarnya kepada Tante Ani Kussusani, beserta staf Majalah Bobo yang sudah mengundangku. Alhamdulillah, tiap tahun aku diundang untuk menghadiri perhelatan Konferensi Anak Indonesia. Biasanya aku menjadi tamu undangan, wakil dari alumni KONFA. Sementara tahun lalu aku diundang menjadi fasilitator KONFA 2015. Dan tahun ini aku diundang menjadi pembicara di KONFA 2016. Biasanya, setiap kali diundang, aku mendapat banyak oleh-oleh dari Majalah Bobo. Di KONFA 2016, sebagai pembicara, aku mendapat oleh-oleh lebih banyak lagi, yaitu berupa plakat, boneka Bobo, jam dinding Bobo, satu set tempat makan Bobo, kartu Flazz Bobo, kaos KONFA 2016, dan dress batik. Lucuuu! Kapan-kapan undang lagi, ya ... Hehehe .... ^_^




Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/shandini/media_set?set=a.1118315154930431.1150956509&type=3


Read More

Sharing Menulis di Festival Literasi Jakarta 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 12:06:00 PM 1 Comment so far

Jum’at, 3 Juni 2016 lalu, aku diundang sebagai pembicara di acara Festival Literasi Jakarta 2016 oleh panitia dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sebetulnya aku sudah diberi tahu info ini semenjak aku mengisi di acara MGMP Bahasa Inggris di SMAN 8 Jakarta. Tetapi kegiatannya diundur beberapa minggu setelahnya. Cerita tentang kegiatan di SMAN 8 Jakarta itu bisa dibaca di link ini: Sharing di Seminar Guru "Gerakan Literasi Sekolah".

Acara Festival Literasi ini diikuti oleh berbagai sekolah yang membuat stand-stand mengenai literasi di sekolahnya. Mulai SD, SMP, SMA, para murid berlomba untuk unjuk bakat dalam bidang literasi, diantaranya mendongeng, pidato, sampai musikalisasi puisi. Acara ini diadakan di Universitas Trilogi Jakarta. Aku datang kesana bersama kepala sekolahku, Pak Fakhruddin, dan guru Bahasa Inggris yang waktu itu mengajakku untuk ikut mengisi di SMAN 8 Jakarta, Miss Arifah.

Sehari sebelumnya, aku diberi rundown acaranya oleh Miss Arifah. Disitu tertulis bahwa aku akan sharing proses kreatif menulis bersama penulis dari SMAN 39 Jakarta. Aku jadi teringat ketika mengisi di SMAN 8, ada guru SMAN 39 yang bilang bahwa beliau punya murid yang juga seorang penulis, yaitu Ayunda. Wah, akhirnya setelah lama tidak bertemu aku bisa sharing menulis dengan Kak Yunda!

Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berangkat dari sekolah setelah Jum’atan. Hari itu adalah hari terakhir PAT, jadi aku ke sekolah dengan membawa buku pelajaran yang diujiankan serta membawa satu tas lagi berisi buku-bukuku yang kutitipkan di ruang guru. Sesampainya disana, aku melihat banyak stand per sekolah yang menunjukkan karya-karya muridnya. Labschool, SMAN 13, SMAN 26, SMAN 36, SMAN 12, SMA MH Thamrin, SMAN 39, MAN 4, MAN 3, SMPN 1, SMPN 115, Santa Ursula, Don Bosco Pondok Indah, SMAN 8, Mentari School, SD Penabur 1, SDN Menteng 1, dan masih banyak lagi.

Kami langsung diantar ke tempat acara. Pak Fakhruddin dan Miss Arifah menonton, sementara aku masuk ke ruang tunggu dan bertemu dengan Kak Yunda yang sedang mengobrol dengan beberapa pengisi acara lainnya. Rupanya Kak Yunda sudah di tempat semenjak pukul 10, dan acara dimulai terlambat. Jadi, sepertinya jadwal kami tampil pukul tiga sore akan diundur. Kak Yunda juga cerita bahwa ia sempat bertemu Nabilah JKT48.

Aku akhirnya juga menonton rangkaian acaranya. Banyak yang hadir disana. Ada dari Kementerian Agama, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan banyak tamu undangan lainnya. Ternyata, Nabilah JKT48 dipilih sebagai Duta Literasi karena minatnya yang besar pada bidang membaca.

Sebelum tampil, aku bertemu Bapak Dr. Sopan Adrianto, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan provinsi DKI Jakarta. Aku juga bertemu Bapak Mohammad Husein yang jadi Ketua Panitia Festival Literasi Jakarta 20016 ini. Dan untuk kesekian kalinya, aku juga bertemu dengan Bu Desi dan Bu Yully, guru-guru yang sangat baik hati. Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berfoto bersama semuanya dengan mengikutsertakan buku-bukuku. Aku juga bertukar kartu nama dengan beberapa guru.

Saatnya aku dan Kak Yunda tampil. Aku sharing pengalamanku menulis dengan Kak Yunda di panggung utama. Kami membahas bagaimana kami mendapat ide menulis dan berinteraksi dengan siswa-siswi dari sekolah lain yang juga tertarik dalam dunia tulis menulis. Sayangnya, waktu berlalu begitu cepat. Setelah sharing, aku juga sempat diwawancara oleh Radar Online.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku mengitari stand, bertemu wajah-wajah yang kukenal seperti temanku saat SMP, atau teman yang kutemui saat mengikuti suatu kegiatan. Tak lupa berfoto dengan Kak Yunda yang juga langsung bergegas ke acara selanjutnya. Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah kembali ke sekolah.

Terima kasih kepada Bu Desi, Bu Yully, Pak Mohammad Husein, dan lain-lain yang menjadi panitia di acara Festival Literasi Jakarta 2016 ini dan telah mengundangku di acara keren ini. Semoga nanti aku bisa ikut berpartisipasi lagi dalam kegiatan literasi yang lain.

Terima kasih kepada Pak Fakhruddin dan Miss Arifah atas izinnya sehingga aku berkesempatan untuk bisa sharing di depan teman-teman dari berbagai sekolah. Terima kasih juga untuk guru-guru dan teman-teman yang selalu mendukung kegiatanku. Doakan agar aku bisa terus berkarya, ya. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1028401517255129&type=3

Read More