Loading

Labs Film Festival (LFF) 2016

Muthia Fadhila Khairunnisa 7:48:00 PM

Pada 30 April lalu, di sekolahku, SMA Labschool Jakarta, diadakan malam penganugerahan Labs Film Festival. Labs Film Festival adalah acara tahunan SMA Labschool Jakarta dimana setiap kelas membuat film pendek yang diunggah ke YouTube dan dilombakan. Kelasku, dengan film pendek kami yang bertajuk "TITIK KOMA" berhasil membawa pulang 5 piala dari total 7 nominasi. Mulai dari Vianka sebagai Best Supporting Actress, Best Costume and Make Up yang disponsori oleh online shop Riva, Best Cinematoraphy hasil tangan-tangan emas Ocal, Best Script yang bahkan aku tidak menyangka berhasil mendapatkannya setelah bekerja sama dengan Baba, juga film kami sebagai Runner Up Labs Film Festival 2016. Selain itu, kami mendapat nominasi Best Editing dan Best Director.

Winner Labs Film Festival 2016 adalah film "1991" dari kelas X IPS 1 dan "Soul Changes" karya X IPA 5 sebagai 2nd Runner Up-nya. Meskipun begitu, Alhamdulillah kelasku berhasil membawa pulang piala paling banyak. Perjuangan kami mulai dari menggarap ide hingga editing tidak sia-sia.
Oh ya, Labs Film Festival ini mempunyai tim juri yang diketuai oleh Bapak Aryo Danusiri, yang merupakan sutradara film nasional. Beliau sangan support dengan kegiatan LFF ini.

Acara Labs Film Festival memang sudah diumumkan sejak Desember tahun lalu. Kami diberi waktu hingga pertengahan Februari untuk mengumpulkan film pendeknya. Bahkan, aku dan Ainul sudah mulai bertukar inspirasi semenjak liburan kami bersama Vabio dan Aliya ke Yogyakarta. Duh, tapi namanya anak SMA sekarang, ya, kelihatannya sibuk banget. Merumuskan ide yang fix aja akhirnya molor sampai awal Februari. Hahaha.

Berbagai meeting diadakan. Mulai di sekolah, di rumah Fatia, sampai sambil bersantai di Fat Bubble. Aku dan Baba, yang ditugaskan menjadi penulis skenario pun mulai membagi tugas akan menulis adegan-adegan mana sebelum endingnya ditentukan, karena skenario ini juga hasil sumbangan pemikiran teman-teman yang ikut berpartisipasi, bukan hanya buah pikir seorang atau dua.

Pada saat itu, kebetulan aku terpilih menjadi salah satu finalis Lomba Menulis Surat "GENERASIKU MELAWAN KORUPSI" yang diadakan oleh KPK dan PT Pos Indonesia. Ceritanya bisa dibaca di link ini: Cerita dari Winner Camp LMS Pos Indonesia 2016.

Jadi, selain harus menulis skenario, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk mengikuti final lomba tersebut. Karena deadline yang makin kesini makin dekat dan kami juga belum menentukan akhir dari ceritanya, aku dan Baba menyelesaikan skenario pada malam sebelum syuting. Itupun baru selesai setengahnya.

Selama aku mengikuti Winner Camp Lomba Menulis Surat di Bandung, teman-teman sudah mulai proses syuting adegan-adegan yang sudah jadi dalam skrip. Seperti adegan di sekolah dan di cafe. Untuk adegan cafenya, kami syuting di sebuah kafe di daerah Gading. Zafira dan Dean sebagai produser lah yang bertanggung jawab urusan perizinan. Setelah syuting di kafe, teman-teman melanjutkan syuting adegan toilet dan kelas di sekolah. Avi, bagian dari kelas kami yang pada awal semester kedua pindah sekolah juga menyempatkan diri untuk menjadi cameo sebagai teman dari Daffa yang berperan sebagai Dikka.

Sepulangnya dari Winner Camp Lomba Menulis Surat di Bandung, aku langsung bergegas untuk mengikuti les Bahasa Perancis di daerah Menteng. Aku tidak mau bolos selama masih bisa mengikutinya. Alhamdulillah perjalanan Bandung-Jakarta lancar, sehingga aku tidak terlambat les Bahasa Perancis. Kebetulan juga, aku sekelas dengan Ainul yang merupakan sutradara Titik Koma. Sepulang dari tempat les, aku dan Ainul menumpang mobil Khalya, teman sekelas kami di sekolah maupun tempat les, untuk mengantarkan kami ke Perpustakaan Nasional di Salemba. Aku dan Ainul akan melakukan survei tempat syuting.

Karena selama ini aku hanya bisa memandangi gedung Perpusnas dari luar, muncul ekspektasi-ekspektasi akan banyak hal yang akan aku temui di dalamnya. Membayangkan bahwa perpustakaan itu seperti perpustakaan di film-film, dengan rak-rak kayu, tempat membaca yang tenang, serta harum buku-buku koleksinya. Kemudian, ekspektasi itu hancur berkeping-keping di kepalaku ketika aku dan Ainul menginjakkan kaki di dalam. Hahaha.

Ternyata, oh, ternyata, di Perpusnas, pengunjung tidak dipersilakan untuk mencari dan mengambil buku yang ingin dibaca secara langsung, melainkan mencari referensi buku yang ingin dibaca, kemudian menyerahkannya kepada petugas perpustakaan untuk kemudian bukunya dicari. Ruangan berisi buku-bukunya tidak boleh sembarang dimasuki tanpa izin.

Aku dan Ainul menjelajah mulai dari lantai 1 hingga lantai 8. Di lantai 1, sebelum naik ke lantai sebelumnya, para pengunjung harus membuat kartu perpustakaan. Kami mengisi formulir online, kemudian langsung berfoto dan dicetak kartunya. Kartu itu digunakan untuk masuk ke daerah perpustakaan. Ditempelkan ke mesin seperti yang biasa dilihat di halte-halte Transjakarta. Di lantai 2, ada tempat untuk para pengunjung mencari referensi buku-buku yang ingin dibaca. Sementara dari lantai 3 hingga 8, ada ruang baca dengan topik yang berbeda-beda. Saat aku dan Ainul masuk, rata-rata pengunjungnya adalah anak kuliah yang sedang mengerjakan tugas. Mereka membaca sambil membuka laptop di ruang baca.

Setelah melihat-lihat Perpusnas, kami berjalan kaki ke Gramedia Matraman yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Kami melanjutkan proses pembuatan skenario sambil ngemil di Dunkin Donuts Gramedia Matraman. Aku dan Ainul membuat skenario sambil kontak-kontakan dengan Ocal, kameramen dan editor. Agar mempermudah, kami memutuskan untuk bekerja di rumah Ocal yang masih terletak di daerah Rawamangun. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, kami akhirnya naik bajaj. Tapi, sebelum itu, aku menemani Ainul makan mi ayam di depan Gramedia karena dia hanya membeli minuman di Dunkin. Padahal, waktu itu langit sudah mulai terlihat jingga dengan semburat ungu.

Aku dan Ainul brainstorming di rumah Ocal. Sampai saat itu, kami masih belum menemukan ending yang tepat. Berbagai scenario muncul di pikiranku. Ainul juga sudah sibuk corat-coret di buku catatannya. Sampai akhirnya kami sepakat untuk menambah adegan Dikka dan cita-citanya menjadi bos di perusahaan besar sebagai penghubung ide teman-teman yang lain.

Malamnya, aku dan Baba langsung menyelesaikan skenario. Aku dan Ainul juga sibuk menghubungi beberapa anak laki-laki di kelas karena adanya tambahan peran. Kami janjian untuk kumpul di sekolah pukul 7 besok paginya. Karena saat itu SMA sudah selesai UTS dan tidak ada sesi belajar intensif, sementara SMP sedang melaksanakan UTS, sekolah bisa dibilang cukup sepi. Sebelum ke sekolah, aku dan Baba meng-print dan memfotokopi skenario untuk dibagikan pada semua pemain dan kru. Meski sudah dibilang dating pukul 7, budaya molor rupanya masih ada di antara kami. Ada yang dating pukul 9, pukul 10. Dan kami pun baru memulai syuting adegan di kantin sekitar pukul setengah 11.

Selesai syuting adegan kantin, kami beristirahat sebentar sambil mengisi diari yang dijadikan diari Dara di film. Niatnya, sih, setelah itu langsung syuting di lobby sekolah. Tapi kami terlambat. Anak-anak SMP sudah berhamburan keluar sehingga lobby terlalu padat untuk dijadikan tempat syuting. Kami pun pindah ke gedung sebelah, gedung Grapari, dan melakukan syuting adegan Dikka, Laras, bersama ayahnya Laras disana. Dio, yang awalnya gabut dan tidak ikut campur dalam urusan film pun ditunjuk menjadi supir ayahnya Laras yang diperankan oleh Gibgib. Untuk mobil, kami pinjam mobil Tyrone, anak kelas X IPS 1. Iseng-iseng, aku dan Ainul numpang lewat dalam adegan itu. Hihi.

Setelah syuting adegan tersebut, kami kembali ke sekolah dan mengambil ruang putih di sekolah. Kami menyebutnya ruang putih, aku bahkan lupa nama ruangan itu. Yang jelas, ruangan itu digunakan untuk belajar, guru-guru memasukkan nilai, pokoknya serbaguna, deh! Aku ikut menjadi salah satu cameo adegan ini, sebagai pegawai perusahaan Dikka. Ya, adegan ini adalah adegan Dikka yang dilantik menjadi direktur perusahaan ayahnya Laras. Selain aku, ada Zafira, Baba, Dikka, dan Tyrone yang menjadi pegawai.

Perjalanan syuting hari itu masih panjang. Kami berniat menuntaskan semuanya hari itu, mengingat deadline yang tinggal sehari lagi. Lokasi selanjutnya adalah Perpusnas. Bagian perizinan kami (Yay, Japir!) berhasil meminta izin untuk meminjam tempat rak-rak buku untuk syuting. Kali ini, aku juga muncul sebagai ibu perpustakaan setelah Ainul bujuk semenjak kami menulis scenario di rumah Ocal. Aku menguncir rambut, memakai kacamata, dan cardigan cokelat muda. Satu hal yang aku ingat dari syuting di Perpusnas adalah, aku dikira petugas perpustakaan beneran oleh beberapa pengunjung. Mereka menyerahkan kertas kecil berisi buku yang ingin dipinjam. Aku hanya bisa tertawa kecil dan menunjuk ke petugas perpustakaan yang asli. Teman-teman di ruangan itu juga hanya tertawa kecil.

Karena sudah hampir setengah 4 sore dan kami semua belum makan siang, kami makan di tempat makan yang ada di seberang Perpusnas. Kami itu Daffa, Vianka, dan Firyal sebagai pemeran, aku, Ainul, Zafira, Dean, Ocal, dan Baba sebagai kru. Tyrone juga ikut.

Mataku bolak-balik menatap menu dan isi dompet. Beralasan ke toilet, aku, Dean, Ainul, dan Daffa keluar dari tempat itu dan malah memesan mi ayam 10 ribuan. Hahaha. Setelah itu, kami kembali ke tempat yang lain makan. Sisa tiga adegan. Adegan Dikka berkaca sembari merapikan jasnya di toilet, Dikka menulis surat untuk Dara di ruang kerja, dan adegan Dikka dan Laras pulang dari kafe. Tadinya, adegan toilet mau dilakukan ketika kami kembali ke sekolah. Tetapi, ketika melihat bahwa toilet di tempat makan punya lighting yang bagus, mengapa tidak? Adegan Dikka dan Laras juga seharusnya dilakukan pada saat syuting di kafe, namun, saat itu kami bahkan belum menemukan endingnya sehingga adegannya dilakukan di parkiran sekolah.

Kami kembali ke sekolah menjelang maghrib. Tersisa aku, Ainul, Ocal, Daffa, Vianka, dan Zafira. Jalanan kembali ke sekolah juga mulai padat dengan mobil-mobil orang pulang kantor. Kami memulai syuting lagi setelah maghrib untuk adegan Dikka menulis surat untuk Dara. Adegan itu juga pada akhirnya dilakukan di meja piket sekolah. Tempatnya terbuka. Zafira ikut berakting menjadi sekretaris Dikka.

Sudah hampir pukul 8 malam dan kami akhirnya sampai di adegan terakhir, adegan di luar kafe, di mobil Dikka. Ada satu adegan dimana Dikka time-lapse menunggu Laras yang tak kunjung balik ke mobil setelah berniat mengambil dompetnya yang tertinggal. Adegan itu akhirnya di-shoot menggunakan iPhone. Untuk membangun suasana, diputar lagu Bimbang, OST AADC 1. Tinggal adegan itu, ternyata Daffa mengalami kesulitan memutar lagunya karena lagunya otomatis terganti menjadi lagu lain. Setelah beberapa kali percobaan, kami meninggalkan Daffa sendiri di mobil untuk menyelesaikan adegannya.

Menuju pukul 8 malam, syuting akhirnya di wrap up. Eits, tapi perjuangan kami tidak sampai disitu. Masih ada proses editing yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Bagian editing kami serahkan ke Ocal yang memang sudah terbiasa mengedit untuk video-videonya di YouTube. Alhamdulillah, hasil kerja keras kami syuting hanya 3 hari tidak sia-sia. 5 penghargaan itu merupakan sebuah kebanggan untuk kelas kami, X IPS 2.

Ini adalah pengalaman pertamaku menulis scenario untuk film pendek. Mengikuti prosesnya dari awal sampai akhir. I learned new things from it. Props to all casts and crews for working hard. They said hard work won’t betray, and it’s true!

p.s:
Titik Koma sudah dilihat 6000 kali. Terima kasih, semua!
Bagi yang belum nonton bisa langsung meluncur ke link ini https://youtu.be/RHdRf80ArKY.
Kritik, saran, dan masukan sangat diperbolehkan, kok!


Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1027947910633823&type=3&pnref=story


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...