Loading

Liburan Semester Ganjil Kelas 8

Muthia Fadhila Khairunnisa 10:35:00 PM 1 Comment so far

Aku dan beberapa buku karyaku yang ada di Gramedia Gandaria City ^^

Empat buku dari beberapa buku yang kubeli di Gramedia Gandaria City ^^

Liburan itu bukan hanya tentang jalan-jalan ke luar negeri. Bukan juga hanya mengunjungi berbagai tempat hiburan, mal, ataupun tempat-tempat wisata. Bisa saja aku menikmatinya dengan mengunjungi atau melakukan sejumlah hal baru. Bisa saja aku berwisata kuliner, atau mengunjungi tempat dengan sejuta diskon di hari libur. Tetapi liburan juga bisa dibilang seru walau hanya dinikmati di rumah. Bermain dan berkumpul bersama keluarga sudah cukup bagiku untuk disebut sebagai liburan.
Liburan semester ganjil kali ini, aku kembali menghabiskannya di rumah eyang. Memang sudah menjadi rutinitas kami untuk pergi dan menginap di sana—bergantian dengan eyangku yang sering menginap di rumahku lain waktu—sampai liburan selesai. Liburan dua minggu diberikan oleh sekolah. Walau aku sudah menikmati “liburan singkat” selesai UAS, yaitu menonton film di bioskop dan jalan-jalan ke mal untuk makan dan ke toko buku setelah sepulang sekolah.
Menikmati akhir tahun dengan perasaan lumayan lega melihat nilai raporku. Tepat dua hari setelah pembagian rapor, kami—aku, mama, dan kedua adikku—berangkat menuju wilayah Ciledug, Tangerang Selatan dengan mobil. Mama mengendarai sendiri mobilnya. Ayah tidak ikut karena harus kerja dan tidak mendapat cuti. Kami membawa baju-baju dan perlengkapan lainnya yang hanya ditaruh dalam beberapa keranjang. Kata mama biar lebih ringkas, tidak usah membawa koper. Hingga kipas angin pun kami bawa karena di rumah eyang tidak memakai AC.
Sekitar waktu Isya, kami sampai di rumah eyang. Disambut oleh yangti dan adik-adik sepupuku, kami masuk ke dalam rumah. Melihat adik sepupuku yang paling kecil, aku ingin langsung menggendongnya. Sayangnya aku terlalu capek selama perjalanan. Lagipula aku juga harus membantu mama menurunkan barang-barang yang kami bawa dan menaruhnya di dalam rumah.
Seperti biasa, yangti sudah memasakkan kami berbagai makanan untuk menyambut kami. Semur daging, tahu goreng, dan ayam goreng, semuanya terhampar di meja makan. Ditambah nasi goreng yang dijanjikan yangti kepadaku. Katanya nanti akan dibawakan ketika tanteku pulang kerja. Membuat perutku keroncongan walau baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.
Omku, istrinya, dan anaknya sedang tidak ada di rumah. Memiliki rencana liburan sendiri yang aku juga entah tidak ingat kemana. Sehingga sebuah kamar kosong. Di situ adalah satu-satunya kamar dengan komputer dan jaringan wi-fi. Langsung saja adikku menyambarnya dengan alasan menonton film di Youtube.
Adik sepupu laki-lakiku—anak pertama dari tanteku—meminjam iPad milik adikku. Mereka bertukar mainan dan sama-sama memainkannya di kamar omku. Aku yang masih memiliki deadline novel yang diorder penerbit ikut mengerjakannya di sana. Menjadikan kamar itu penuh anak-anak.
Agak sulit untukku menulis cerita di suasana yang ramai. Aku lebih memilih suasana tenang agar aku bisa berpikir lebih jernih. Di pojokan kasur, aku menyandarkan diri. Ditemani sebuah kipas angin dan colokan charger. Walau sudah membuat “suasana sendiri”, tetap saja aku mendengar dan melihat adik-adikku berebutan dengan apa yang sedang mereka mainkan. Seingatku, mereka main balapan dan bergantian memakai komputer. Terkadang aku harus berteriak untuk mendiamkan mereka, karena terlalu berisik. Hihihi ....
Malamnya,  aku tidak bisa tidur. Tidak apalahliburan ini, pikirku. Untuk mengisi waktu itu, aku memutuskan untuk menonton drama Korea “You Who Came From The Stars”, “Let’s Eat”, dan “Golden Rainbow”. Variety show Korea seperti “Winner TV” dan “EXO’s Showtime”. Serta membaca fan fiction yang belum selesai kubaca di internet. Mama membawa modem sehingga aku bisa meminjamnya. Selesai melakukan semua kegiatan itu, aku tidur. Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Kulihat yangkung sudah bangun. Memperhatikanku dengan tatapan heran dan bertanya-tanya, “Mengapa belum tidur?”.
Pukul setengah tujuh pagi, aku bangun untuk melakukan sholat subuh. Jelas kesiangan, karena aku tidurnya pun menjelang subuh. Harusnya aku sholat subuh dulu baru tidur, tapi sudah tidak tahan, mengantuk sekali. Setelah sholat subuh, aku tidur kembali dan bangun tepat pukul setengah dua belas. Masih dengan piyama, aku berjalan melangkah keluar kamar. Tiba-tiba kami mendapat kunjungan dadakan dari Eyang To dan Eyang Sarti. Aku pun segera kabur ke kamar mandi. Malu karena belum mandi. Selesai mandi, mama memberitahuku agar tidak mengulangi hal yang sama. Aku mengangguk dan meminta maaf. Setelah itu, aku kembali melanjutkan novelku yang belum juga selesai kemarin malam.
***
Beberapa hari setelahnya, mama mengajak kami untuk pergi ke Gandaria City karena adik-adikku rambutnya sudah panjang, berniat untuk memotong rambut kedua adikku. Tetapi tujuan pertama kami bukan ke sana. Berhubung kami berangkat di siang hari di hari Jumat, membawa adik-adikku dan yangkung, tentunya kami harus berhenti mencari masjid terdekat untuk mereka melakukan sholat Jumat.
Kami berhenti di Majestik. Sudah lama aku tidak ke sana. Sepertinya wilayah itu berubah banyak. Bahkan kini sudah dilengkapi dengan gedung parkir. Kami menurunkan adik-adikku dan yangkung di pintu masuk. Mereka harus segera mencari masjid agar tidak ketinggalan melakukan kewajiban umat Muslim laki-laki di hari Jumat. Sebelumnya kami janjian untuk bertemu di Bakmi Boy seusai sholat Jumat. Kemudian mama kembali mengendarai mobil dan mencari parkir di gedung parkir.
Dari gedung parkir, aku, mama, yangti, serta Rifqi—adik sepupu terkecilku yang masih berusia dua tahun—turun ke bawah, langsung ke Bakmi Boy menaiki lift. Ternyata dari lift itu banyak kaum pria yang ingin ke lantai atas—menunjukkan bahwa ada masjid di lantai atas—membuat kami tertawa. Kalau tahu di lantai atas gedung itu ada masjid, pastinya yangkung dan adik-adikku tidak perlu diturunkan di dekat pintu masuk dan harus mencari-cari masjid.
Di Bakmi Boy suasananya sangat ramai. Banyak sekali orang yang mengantri. Memang mi di sana sangat enak. Tak heran jika orang-orang mau menunggu demi makan di sana. Awalnya kukira Bakmi Boy akan tidak terlalu ramai berhubung kaum pria sedang melakukan sholat Jumat. Tapi dugaan kami ternyata salah. Kami terpaksa menunggu hingga ada tempat kosong. Untungnya tidak terlalu lama sehingga kami bisa langsung makan.
Tak lama kemudian, banyak laki-laki yang sudah mulai masuk ke dalam. Berarti sholat Jumat telah usai. Tapi kami belum juga melihat yangkung dan kedua adikku. Kami mulai penasaran. Apakah mereka nyasar atau masih dalam perjalanan, ya?
“Masa, sih, Yangkung tidak tahu tempat ini?” tanya mama. Mama akhirnya keluar untuk memastikannya. Selang beberapa menit, mama kembali ke dalam restoran membawa yangkung dan adik-adikku. Kami pun makan bersama.
***
Selesai makan di Bakmi Boy, sesuai rencana, kami pergi ke Gandaria City. Tujuan utama kami yaitu ke Kiddy Cuts, salon khusus anak-anak. Tak memerlukan waktu lama, kedua adikku segera dipotong rambutnya. Kemudian kami jalan-jalan mengitari mal yang cukup ramai.
Tujuan selanjutnya adalah ke toko buku Gramedia. Seperti biasa, aku selalu mampir ke toko buku untuk melihat buku-bukuku yang sudah terbit di sana. Lumayan banyak, sih, walau tidak sebanyak di Gramedia pusat di Matraman. Aku juga membeli beberapa buku untuk bacaan dan referensi menulis. Oh iya, waktu mama antre buat membayar buku-buku yang kubeli, aku melihat sebuah tas yang lucu. Aku merayu mama untuk membelikanku, tapi mama menggeleng. Ternyata yangti melihatnya. Eh, aku dibelikan tas itu sama yangti. Katanya sebagai hadiah ulang tahunku ke-13 tanggal 14 Januari 2014. Hihihi ... yangti baik banget, deh! Makasih, yangti.
Selesai dari toko buku, kami mencari musholah untuk sholat Ashar. Kemudian kembali jalan-jalan dilanjutkan. Kami pergi ke toko-toko baju dan Ace Hardware. Tak terasa jalan-jalannya, tahu-tahu sudah Maghrib. Kami pun balik lagi ke musholah untuk sholat Maghrib. Setelah itu mama menawarkan pilihan untuk makan malam di mal atau di rumah. Karena sudah lapar—lumayan pegal kakiku karena capek jalan—aku pun memilih untuk makan malam di mal. Yang lainnya setuju. Kami pun makan di Pizza Hut. Wuih, kenyang pokoknya. Baru, deh, setelah itu kami pulang.
***
Walaupun liburan ini terasa singkat karena aku hanya menghabiskan liburanku di rumah eyang, tetapi tidak apa karena kami bisa bersilaturahmi. Malam tahun baru pun hanya kulewatkan sendiri dengan membaca fan fiction karena semuanya sudah tidur. Ditemani televisi yang menyiarkan acara-acara menjelang tahun baru.
Selamat tahun baru 2014. Semoga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi dan semua berjalan dengan lancar. Aamiin.
***


Nb: Tugas Sekolah dari Om Jay (Wijaya Kusumah)



Read More